Pencarian
Agenda
20 April 2014
M
S
S
R
K
J
S
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Login
Username:
Password :

MENGENANG ALM KH M.HASYIM LATIEF pada HAUL ke 7 di YPM Sepanjang

Tanggal : 01/18/2012, 14:39:46, dibaca 1734 kali.

 


 PENGANTAR EDITOR


 Biografi ini ditulis bukan untuk mengultuskan KH Munir Hasyim Latief BA. Tidak juga untuk mempertontonkan “arogansi spiritual” dirinya. Sesuatu yang pernah dicemaskan KH DR Tolchah Hasan (mantan menteri agama). Ia pernah berpendapat, sebagian agamawan Islam telah mabuk “arogansi spiritual”, yang justru mengurangi keikhlasan dan amaliahnya.


Gagasan menulis biografi ini sesungguhnya lahir sejak KH Hasyim Latief –panggilan akrab beliau- masih hidup. Adalah teman seperjuangan beliau, Dr Fahmi Syaifudin Zuhri (putra Menteri Agama Syaifudin Zuhri-Ketua PBNU) yang memintanya. Saat itu, Dokter Fahmi yang sedang sakit, meminta penulis untuk menerbitkan biografi Almaghfurlah KH Hasyim Latief BA.


Tujuannya, sebagai materi kajian pengkaderan dalam Badan Otonom Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Dokter Fahmi berharap, biografi itu akan menumbuhkan semangat dan memberi inspirasi bagi lahirnya pejuang baru yang mendekati sepak terjang dan kiprah KH Hasyim Latief BA. Seorang yang memiliki catatan hidup lengkap dalam berbangsa, bernegara, berjam’iyah dan bermasyarakat.


Namun, draf biografi tadi belum disetujui KH Hasyim Latief BA. Beliau merasa yang dilakukan dan diperjuangkan cuma setitik air di tengah samudra. Ia menganggap apa yang dilakukan tidak memiliki nilai jika dibandingkan perjuangan para aulia, lebih-lebih sahabat Nabi Muhammad SAW.


KH Hasyim Latief BA kecil memang lahir dari keluarga pejuang. Ia adalah keturunan pejuang kemerdekaan dan pejuang Islam di kecamatan Sumobito Jombang. Beliau berasal dari Bani Zahid. Sebuah pohon keluarga yang telah mendirikan 33 masjid di Jombang. Sejumlah tokoh juga terlahir dari klan keluarga Bani Zahid. Sebut saja misalnya, budayawan yang juga Kiai “Mbeling” Emha Ainun Nadjib dan aktivis masyarakat miskin kota Wardah Hafidz. Tak terkecuali, Salman, salah seorang tokoh Komando Jihad yang pernah membajak pesawat Garuda di Bangkok. Mereka semua adalah keponakan KH Hasyim Latief BA.


Sejak muda, ia ditinggal sang abah, H Abdul Latief, seorang petani yang juga pedagang. Dari sang abah, bekal dan tetesan jiwa kewirausahaan mengalir kuat. Sejak kecil ia tidak malu-malu berjualan jajanan, misalnya jagung goreng pasir, berkeliling kampung. Padahal, keluarga H Abdul Latief adalah keluarga kaya saat itu. Bekal ini yang kelak melahirkan ide-ide besar kewirausahaan, baik di bidang pendidikan, perdagangan, pertanian, perkebunan, transportasi, dan restoran.


Gemblengan pada kemandirian dan kerja keras kian ia rasakan saat H Abdul Latief dipenjara Belanda karena dianggap sebagai ekstremis pribumi melawan penjajah dari Eropa itu. Sehingga Hasyim Latief kecil yang sudah ditinggal Ibundanya menjadi tulang punggung keluarga. Putra ketiga H Abdul Latief ini mendapat kepercayaan melaksanakan tugas keluarga. Ia adalah pesuruh keluarga atas perintah kakak-kakaknya.


Hikmahnya, Hasyim Latief kecil terbiasa menyelesaikan pekerjaan di luar kemampuan anak seusianya. Ia mengerjakan banyak hal di luar batas pikiran lazimnya anak sebayanya. Keterpaksaan itulah yang memunculkan kemampuan baru dan berkembang di atas rata-rata orang.


Asyik membaca buku mewarnai Hasyim Latief kecil dan kebiasaan itu terbawa sepanjang hayat. Banyak buku, termasuk yang dilarang pemerintah penjajah Belanda, ia lahap dalam waktu singkat. Selanjutnya, buku itu ia kaji, analisis, ia renungkan. Buku-buku itulah yang terpatri di sanubarinya.


Kitab agama, buku umum, fiksi dan komik menghilhami pemikiran dan ide-ide besarnya. Hingga menjelang akhir hayatnya ia masih membaca buku favoritnya sejak muda “Api di Bukit Menoreh”. Buku ini berkisah tentang perjuangan masyarakat di pulau Jawa dengan asesori kekuasaan, percintaan, kekejian, persahabatan, hukuman bagi yang salah dan kemuliaan bagi yang memperjuangkan kebenaran.


Hobi membaca ini menghasilkan kemampuan komunikasi interpersonal KH Hasyim Latief BA terhadap semua lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat akar rumput, petani, penarik becak hingga pejabat seperti bupati, gubernur, menteri bahkan presiden. Orang tidak segan untuk berkisah dan berkeluh kesah. Semuanya bermaksud untuk berkonsultasi atau meminta pendapat. Harapannya, ketika pulang mereka mendapatkan kesejukan hati karena telah mendapat alternatif pemecahan konkret. Terlebih, mereka mendapatkan bekal doa agar masalahnya cepat terpecahkan.


Hasyim Latief muda adalah sosok ganteng berpenampilan gagah dan simpatik. Ia menjadi idola remaja putri kala itu. Kulit tubuhnya yang putih bersih dan tajamnya sorot dua bola mata mampu menggetarkan jiwa pemudi yang menatapnya. Dan, Djauhariyah, gadis Sepanjang Sidoarjo, adalah satu-satunya gadis yang mampu menundukkan Hasim Latief muda. Sentuhan sinar batin wanita permata ini membawa garis tangan Hasyim Latief muda menjadi seorang pejuang bangsa. Kelak, pasangan ini memperoleh karunia delapan buah cinta, empat putra dan empat putri.


Pemuda Hasyim Latief juga figur yang beruntung karena menjadi santri langsung Hadratus Syeh KH Hasyim Asy’ari di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ia mendapat tempaan pendiri Naddlatul Ulama ini bersama teman seangkatannya, KH Munasir Ali (Pendiri PKB), KH Muchith Muzadi (kakak Ketua PBNU Hasyim Muzadi) dan KH Yusuf Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari-paman KH Abdurrahman Wahid mantan Presiden Republik Indonesia).


Semasa muda, ia juga aktif di Hizbullah, sebuah badan kelasykaran yang didirikan umat Islam Indonesia 14 Oktober 1944. Hizbullah selanjutnya bergabung ke dalam Tentara Rakyat Indonesa/ Tentara Nasional Indonesia. Namun, Hasyim Latief memilih untuk mundur sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Soekarno. Presiden pertama ini dianggap telah memerintahkan untuk memerangi pejuang Islam, padahal mereka berjasa besar merebut kemerdekaan Negara Indonesia.


Hasyim Latief memilih pensiun dari tentara. Sebagai veteran perang kemerdekaan, sesungguhnya ia berhak mendapatkan tunjangan pensiun dari Negara sepanjang hidupnya. Namun, di kemudian hari dana pensiun itu ia tolak.


Ia juga jago lobi. Ini berkat kemampuannya berkomunikasi dan meyakinkan orang lain. Tidak jarang, modal kelihaian lobi ini menyokong keberhasilan kegiatan keorganisasian, pendidikan, dan pembangunan masjid. KH DR Tolchah Hasan mengisahkan, ketika membangun gedung Universitas Islam Malang pada tahun 1975-an, KH Hasyim Latief mendapat kepercayaan menggali dana. Atas nama panitia, ia berhutang pada saudagar kaya Surabaya, H Sukri sebesar Rp 200 juta tanpa jaminan dan agunan. Bisa dibayangkan, uang sebesar itu jika dikurskan dengan nilai uang saat ini setara dengan sekitar Rp 2 miliar.


Gus Dur pun punya kisah. Ia menilai sosok KH Hasyim Latief  sebagai orang serba bisa. Apa yang dikehendaki dan direncanakan hampir dipastikan berhasil walau risikonya merugikan diri sendiri. Ambil contoh ketika panitia Konferensi Wilayah NU Jawa Timur tahun 1980-an mengalami tekor dan itu semua harus segera diselesaikan.


Akhirnya, penulislah yang disuruh menjualkan mobil Toyota Hiace untuk membayar utang panitia. Demikian juga saat pertama kali mendirikan madrasah. Ketika itu sulit untuk mendapat bangku sekolah. KH Hasyim Latief mendapat akal, menukarkan truk miliknya dengan kayu gelondongan. Demi mengirit, kayu gelondongan tadi dikerjakan sendiri menjadi bangku sekolah, termasuk bagian kulitnya.


Kehidupan keluarga KH Hasyim Latief cukup sejahtera. Meski begitu, beliau tak pernah menyombongkan diri sebagai orang kaya. Memang, penampilannya selalu necis, trendy dan modis, namun itu semua dari bahan berharga murah. Ada cerita di balik mengapa ia selalu berpenampilan rapi. Ketika menjadi pengantin baru, ia membuka usaha berjualan kain bati yang dibelinya di Yogyakarta dan Pekalongan untuk dijual di Surabaya dan sekitarnya. Penampilan bersahaja tapi nge-trend menurun di seluruh keluarga. Trend baru tetapi harga grosir Tanah Abang.


Seorang dosen agama Islam di Universitas Negeri Surabaya, Drs H Romli pernah mengatakan kepada penulis bahwa kita harus banyak mendekat dan berguru ke KH Hasyim Latief. Sebab, kata dia, beliau bukan sekadar guru dan kiai biasa. Pesan ini penulis sampaikan kepada beliau. KH Hasyim Latief  berkomentar, memang tidak semua orang ikhlas dan istiqomah dalam berjuang, plus berani ber-amar makruf nahi mungkar. Pujian terhadap sosok KH Hasyim Latief juga terlontar dari Ketua Umum PBNU KH Achmad Hasyim Muzadi. Menurut dia, KH Hasyim Latief adalah orang yang berilmu agama dan beramal ilmiah, ikhlas, gigih dan berani menegakkan amar makruf nahi mungkar walaupun segala resiko harus diterimanya


Senada dengan itu KH Muchith Muzadi mengatakan ketekunan, kejujuran dan kepiawaian membuat KH Hasyim Latief mampu mewujudkan rencana sulit dan itu dilakukannya sendiri. Sementara, Sofwan, mantan dosen IKIP Surabaya yang juga sahabat karib berpendapat KH Hasyim Latief sebagai figur yang mampu membuat sintesa berbagai pendapat berbeda untuk dikerucutkan dalam suatu keputusan yang tidak menimbulkan kontroversi


Kasih sayang kepada  kader muda Jam’iyyah Nahdlatul Ulama juga sering disuguhkan oleh KH Hasyim Latief. Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Drh H Iqbal Assegaf (almarhum) adalah orang yang kerap merasakan itu. Setiap berjumpa, KH Hasyim Latief selalu memeluk dan mengusap pipinya layaknya sentuhan lembut bapak pada anaknya sendiri. Ia selalu menasihatinya agar tetap tegar di tengah gerakan kepemudaan yang penuh intrik, kritik dan konflik. Maklum sejak dulu Ansor cenderung menjadi rebutan banyak organisasi massa dan partai politik sebagai sekoci politiknya.


Di saat keluh kesah aktivis pemuda bidang olahraga dan seni bela diri kurang mendapat perhatian Badan Otonom Pemuda, KH Hasyim Latief menjadi tempat pelariannya. Ini klop dengan posisi KH Hasyim Latief di PBNU sebagai Ketua Bidang Organisasi. Pada masa beliaulah organisasi pemuda baru bidang olahraga seni beladiri Pagar Nusa lahir. DR Suharbillah SH menjadi ketuanya.


Dalam perjuangan bidang sosial dan keagamaan KH Hasyim Latief, seperti diungkap KH Tolchah Hasan, selalu ikhlas. Karena itu, ia tidak pernah mencampur-adukkan antara perjuangan dan mencari nafkah. Keluarga KH Munir Abdul Latief memiliki cukup modal ekonomi. Beliau menyerahkan pengelolaan ekonomi keluarga kepada istri dan anak-anaknya. Mesin ekonomi keluarga telah dibangun sejak KH Munir Abdul Latief remaja.


Keluarga ini memiliki percetakan, usaha jasa transportasi berupa truk dan bus, dan empat penggilingan padi. KH Hasyim Latief juga memiliki kongsi dengan beberapa perusahaan,  menjadi komisaris dan penghasilan sebagai pensiunan anggota MPR RI, DPR RI.  Kewirausahaan dan kemandirian keluarga telah diturunkan ke beberapa putra dan putrinya dan menjadikannya sebagai pengusaha dan profesional. Karena itu, seluruh putra-putrinya memiliki penghasilan cukup.


KH Tolchah Hasan juga sempat berujar bahwa para aktivis sekarang ini menjumpai sejumlah kesulitan. Mereka memiliki semangat perjuangan sosial dan keagamaan tinggi. Namun, bersamaan itu mereka harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Karena itu, tidak jarang antara perjuangan dan tuntutan kebutuhan ekonomi bercampur aduk. Antara kekayaan keluarga dan kekayaan lembaga yang diperjuangkan tidak jelas dipisahkan. Ini yang sering menimbulkan fitnah, bahkan berujung diperkarakan oleh anggotanya sendiri. Yang paling sering kemelut itu berpangkal pada penyimpangan dana organisasi.


Hal ini tidak berlaku pada KH Hasyim Latief. Sebagai ketua, ia tidak pernah memegang sendiri dana organisasi. Ia selalu memberikannya kepada bendahara. Pengalaman dan pengetahuannya tentang akuntansi yang ia dapatkan dari kursus Bon A dan Bon B sewaktu remaja, diterapkan hingga hari tua.


Teguhnya beliau memegang prinsip tertib administrasi dan dana organisasi dapat dilihat dari dokumen ia susun. Baik saat beliau menjadi pejuang Hizbullah, tentara, anggota DPR RI dan pengelolaan Yayasan Pendidikan Ma’arif (YPM) Sepanjang. Rapinya pembukuan yang beliau tangani bisa dilihat dari sekumpulan Buku Hizbullah dan Dokumen Buku Catatan Rapat Yayasan (YPM) sejak tahun 1978 sampai 2005.


 Bisa juga ditengok pada dokumen akuntan publik milik YPM yang mencatat pemasukan dan pengeluaran dana organisasi sejak 10 tahun terakhir.  Semua pengeluaran dan pemasukan dana tercatat dan terekam utuh dan akuntabel.


KH Hasyim Latief menyadari betul pentingnya akuntan publik dalam organisasi. Ketekunan dan ketertiban administrasi telah menjadi wataknya. Sejak awal seluruh aset yang dibangun merupakan wakaf untuk umat Islam. Lembaga dakwah yang harus dikelola secara profesional dengan ketertiban administrasi dan peraturan yang disepakati sesuai keputusan rapat. Dengan demikian semua kebijakan yang dilaksanakan dalam organisasi harus konsisten dan taat azas sesuai peraturan yang dibuat bersama. Inilah kelebihan KH Hasyim Latief yang sejak remaja biasa terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Baik ketika beliau menjadi ketua Dewan Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta maupun sebagai alumni Fakultas Hukum UII.


Sebagai orang yang berlatar belakang pendidikan pesantren dan fakultas hukum, KH Hasyim Latief selalu menegakkan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik secara mikro maupun makro. Penegakan hukum ini ia jalankan di dalam keluarga, masyarakat sekitarnya dan cakupan nasional. Termasuk di dalam lingkungan satuan pendidikan YPM Sepanjang Sidoarjo. Setiap siswa, guru atau kepala sekolah yang melanggar harus mendapat sanksi sesuai jenis pelanggarannya.


Ihwal ini juga berlaku di lingkungan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’. Ketegasan sikap nahi mungkar semula membuat kesal penerima sanksi, namun di belakang hari justru membuatnya meminta maaf kepada KH Hasyim Latief.


Ada kisah menarik tentang ini. Suatu ketika KH Hasyim Latief menjatuhkan sanksi organisasi partai kepada anggota yang melanggar peraturan organisasi. Si orang ini sakit hati. Kemudian, orang itu pergi ke dukun santet untuk mengguna-gunai KH Hasyim Latief hingga bertemu ajal.


Lucunya, si dukun santet malah datang jauh-jauh dari kampungnya untuk menemui KH Hasyim Latief di rumah. Ia ngotot meminta maaf dan mengaku telah melakukan upaya pembunuhan dengan cara menyantet. Si dukun mengaku gagal menyantet KH Hasyim Latief. Guna-guna yang dikirimnya justru berbalik menyerang sang dukun.


Beliau pun menginterogasi sang dukun, siapa yang merencanakan pembunuhan itu. KH Hasyim Latief berlapang dada memberinya maaf dengan syarat si dukun santet harus membawa otak rencana pembunuhan itu menghadap beliau untuk meminta maaf. Selanjutnya beliau meminta dukun santet tadi bertobat.


Kejadian aneh dan kisah semacam kesaktian KH Hasyim Latief memang bukan hal baru. Sejak menjadi santri Tebuireng dan bergabung Hizbullah, beliau telah memiliki wirid, dan hizib. Bekal itu cukup untuk membela diri, tapi bukan untuk menyerang. Salah satunya adalah wirid Jaljalud yang selalu dilakukan ketika bahaya menghadang. Baik ketika jaman perjuangan, sewaktu meletusnya G 30 S PKI maupun masa konflik partai politik.


Kisah lain, ketika jaman perang kemerdekaan, KH Hasyim Latief yang menjadi komandan peleton menyerang pasukan Belanda. Namun pasukannya bercerai berai karena Belanda memiliki senjata modern dan pasukan berjumlah lebih banyak. Beliau terpisah dari pasukannya. Ia yang berlari sendirian terus dikejar tentara Belanda. Pada situasi terjepit inilah KH Hasyim Latief melakukan kontak doa kepada Allah SWT. Kontak doa itu salah satunya dengan melafalkan wirid Jaljalud agar tidak terjadi kontak senjata, maklum kekuatan pasukannya tidak sebanding dengan pasukan Belanda.


Beliau yang saat itu bersembunyi di tengah semak belukar menemukan keajaiban. Tentara Belanda sesungguhnya berhasil menemukan tempat persembunyianya. Jika saja tentara penjajah memberondongkan senjata ke persembunyiannya, secara nalar dipastikan ia tewas. Namun kebesaran Tuhan datang. KH Hasyim Latief lenyap dari kejaran tentara musuh. Tentara Belanda pun uring-uringan karena yang diburu hilang dari pandangan. Seketika itu, muncul seseorang yang oleh tentara Belanda dikira KH Hasyim Latief, padahal bukan. Tentara Belanda langsung memuntahkan pelurunya ke arah orang yang di matanya dianggap sebagai sosok KH Hasyim Latief. Tentara musuh bergembira karena merasa telah membunuh KH Hasyim Latief. Selanjutnya, pasukan Belanda melakukan operasi ke tempat yang lain. Beliau pun terlepas dari maut.


Kesaktian semacam itu bukan berkat ajimat atau keris. Tetapi karena kedekatannya pada Allah SWT melalui wirid, hizib dan istighotsah yang selalu dilakukan setiap ada kesempatan. Kesaktian yang datang selain dari doa kepada Allah SWT tidak pernah beliau percayai. Ia sendiri memiliki pengalaman nyata tentang keris, sebagaimana diceritakan KH Muchith Muzadi. Ketika memimpin pasukan di daerah Trowulan, para anggota pasukan diajak untuk berdoa dan istighotsah demi keselamatan dan keberhasilan perjuangan.


Doa dilakukan selama dua malam. Pada malam pertama, tiba-tiba muncul benda-benda berwarna hitam berterbangan di hadapan pasukannya. Pasukan girang karena benda itu ternyata keris kecil primadona kesaktian masyarakat saat itu. Suasana jadi gaduh.


KH Hasyim Latief melakukan penyelidikan. Insting intelijennya berjalan, apa dan siapa yang menjadi penyebabnya. Ternyata ada seorang anggota pasukan yang tidak ikut gaduh karena girang. Dia hanya diam dan menebarkan senyum bangga karena berhasil mengerjai temannya. Untuk sementara, KH Hasyim Latief membiarkannya tersenyum sukses.


Malam berikutnya, istighotsah digelar lagi. Beliau waspada mengincar gerak gerik seorang anggotanya yang mencurigakan. Benar, muncul kembali kejadian keris kecil hitam berterbangan di depan pasukannya. Sang komandan mengetahui dengan mata kepala sendiri peristiwa itu dan membiarkan anak buahnya gaduh kegirangan.


Baru, usai kegaduhan itu reda, sang komandan memanggil seorang anak buahnya yang telah diincar sejak malam pertama doa. Kepadanya, beliau meminta anak buah tadi menjelaskan ulahnya. Sang komandan pun sukses meyakinkan pasukannya bahwa keris tadi bukan dari Tuhan, tetapi ulah iseng anak buahnya. KH Hasyim Latief sang komandan berkeyakinan, keris adalah karya cipta manusia yang dalam istilah sekarang disebut hasil teknologi. Sementara teknologi membutuhkan bahan, desain dan cara produksi. Tuhan memberikan kekuatan sesuai desain seni dan teknologi yang dikehendaki manusia. Tapi, mengapa orang mendapatkannya dengan cara membeli dari orang lain? Banyaknya pertanyaan semacam itulah yang membuat banyak orang pupus kepercayaan atas kesaktian keris.


Uniknya, cerita tentang kesaktian KH Hasyim Latief menyebar dari mulut ke mulut. Keluarga beliau beberapa kali mendapat tamu yang tidak jelas tujuannya. Misalnya, mereka hanya sekadar ingin bersalaman dan bertatap muka saja. Ada yang meminta kesembuhan dari penyakitnya. Ada juga yang minta ini itu yang pada intinya menganggap KH Hasyim Latief ‘orang pinter’. Akan tetapi, semua keinginan tamu yang terkait ‘kepintarannya’ itu akhirnya ditolak secara halus. Beliau hanya memberi wirid untuk diamalkan sendiri tamunya.


Memang, kalangan NU memiliki kelebihan dalam hal banyaknya doa, wirid dan hizib. Namun KH Hasyim Latief sering mengingatkan kepada generasi muda bahwa ilmu amaliah ini merupakan ilmu khusus diberikan Tuhan untuk orang memenuhi persyaratan. Yakni, mereka yang telah menguasai aqidah dan syariat serta kesucian diri berupa tasawuf.


Karena itu beliau mengingatkan anak muda bahwa perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat yang serba modern, tidak bisa dilawan dengan wirid saja. Teknologi harus dilawan dengan teknologi. Hati dan jiwa manusialah yang dapat dilawan dengan wirid dan hizib agar tidak menggunakan teknologi secara keliru.


Keyakinan KH Hasyim Latief terhadap kecanggihan teknologi begitu besar. Beliau memiliki segudang pengalaman berkeliling dunia meninjau industri teknologi canggih di sejumlah negara. Jerman, Jepang, Kanada dan beberapa negara lain yang mengedepankan teknologi sebagai pemecahan masalah kehidupan fisik manusia pernah ia kunjungi. Keyakinan terhadap teknologi inilah yang melahirkan 14 satuan pendidikan teknologi SMK YPM dan Perguruan Tinggi Teknologi. Di samping itu, dua Menteri Riset dan Teknologi telah diundang ke YPM Sepanjang, yakni Menristek RI BJ  Habibie yang kelak menjadi Presiden RI dan Menristek AS Hikam pada masa kabinet Gus Dur.


Beliau pernah mendapatkan masalah kesehatan yang menerpanya hampir 20 tahun. Penyakit batu ginjal, jantung dan terakhir stroke menderanya. Beliau menempuh hampir seluruh usaha pengobatan alternatif, namun tanpa hasil. Kalau pun berhasil hanya bersifat sementara. Pengobatan secara medis ternyata diyakini dapat memberikan kesehatan dan penyembuhan. Alhamdulillah, beliau berumur panjang hingga 77 tahun




BAB KESATU


Hermes Barby van Jombang
          Sejak akhir abad ke-18, Jombang memainkan peranan sangat besar dalam   perjalanan bangsa Indonesia. Banyak tokoh pergerakan dan pejuang  nasional   yang dilahirkan oleh   pesantren-pesantren di Jombang.   Bahkan, mungkin Jombang adalah satu-satunya kabupaten yang paling banyak melahirkan pemimpin bangsa, terutama  pemimpin agama Islam.


          Di Jombang terdapat empat  pesantren besar, yaitu Tebuireng, Darul Ulum,  Bahrul Ulum, dan Mambaul  Ma’arif. Empat pesantren itu sejak awal berdirinya, telah melahirkan lulusan yang  tersebar di seluruh penjuru nusantara. Namun, di antara empat pesantren tersebut,  yang paling besar peranannya ialah Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Hadratus Syeh KH Hasyim Asy’ari pada 1899.


          Tak tehitung banyaknya tokoh dan kader bangsa hasil didikan pesantren ini. Pada abad ke-20, Pemerintah Jepang mencatat sekitar  2000 kiai di Jawa dan Madura adalah hasil didikan Pesantren Tebuireng, sehingga Tebuireng disebut sebagai pabrik kiai. Dan,  salah seorang  tokoh ulama dan pejuang hasil didikan Hadratus Syeh KH Hasyim Asy’ari  ialah Munir Hasyim Latief, yang kemudian lebih dikenal sebagai KH Hasyim Latief.


KH Hasyim Latief  lahir di Sumobito, Jombang, 17 Mei 1928. Ayahnya bernama H Abdul Latief.  Kakeknya, H Imam Zuhdi, adalah seorang penghulu Agama di Sumobito, Jombang.  Seperti anak-anak dan hampir semua bangsa Indonesia yang hidup pada masa penjajahan Jepang, Hasyim Latief harus menjalani kehidupan yang serba sulit. Bahkan, ia pernah mengalami guncangan batin karena ibu dan kakaknya meninggal dunia, sedangkan ayahnya berada dalam tahanan  Jepang.


          H Abdul Latief ditahan oleh Jepang waktunya hampir bersamaan dengan penangkapan terhadap Rais Akbar NU Hadratus Syeh  KH Hasyim Asy’ari. Peristiwa itu bermula dari pengambilan barang-barang milik Belanda di Pabrik Gula (PG) Cukir, Kecamatan Diwek.  Dua hari setelah Jepang mendarat, orang-orang menyerbu PG Cukir. Mereka tidak mengambil gula, tetapi mengambil  barang-barang berharga milik Belanda yang  tersimpan di PG, seperti kain wool, mesin jahit, mesin tulis, dan sepeda.    


Orang-orang yang mengambil kain tidak hanya sepotong atau dua potong, tetapi gebokan. Setiap orang mengambil tiga hingga empat gebok. Melihat orang-orang mengambil barang tanpa merasa bersalah, Hasyim Latief  juga  ikut mengambil barang. Ia mengambil  mesin tulis kecil  bermerk   Hermes Barby.


Dua hari kemudian, seorang Asisten Residen Belanda di Jombang berkebangsaan Belanda datang dengan berkendaraan Fiat kodok. Melihat kedatangan Asisten Residen itu, orang-orang berkerumun hendak beramai-ramai memukul Asisten Residen. Asisten Residen itu mengeluarkan pistol dan  beberapa kali menarik pelatuknya. Peluru muntah berurutan dari moncongnya. Seorang bernama Sai tertembak pada bagian tangannya. Inilah yang mengundang kemarahan masyarakat. Asisten Residen itu ketakutan lalu  melarikan mobilnya ke Jombang. Ia selamat, tapi kaca mobilnya pecah terkena lemparan benda-benda keras.


Warga Jombang lalu berbondong-bondong  ke rumah Asisten Wedana. Mereka menganggap Asisten Wedana telah melakukan kesalahan, karena membiarkan Asisten Residen datang ke Cukir dan menembak orang. Karena itu, mereka ingin menyerbu rumah dan menghajar  Asisten Wedana.


Melihat kejadian itu, H Abdul Latif segera bertindak untuk mencegah kemarahan  masyarakat. Sebab,  bila Asisten Wedana terbunuh, keadaan akan semakin kacau. Dengan sekuat tenaga ia meminta agar orang-orang tidak menyerbu rumah Asisten Wedana. Namun, mereka sulit dicegah. Mereka ngotot ingin membunuh Asisten Wedana. H Abdul Latif pun menantang mereka seraya berkata, “Ayo… nek koen katene mateni Asisten Wedodno, patenono aku dhisik! (Ayo… kalau kamu mau membunuh Asisten Wedana, bunuhlah saya dulu)”. Massa yang berkerumun mendadak diam. Tak seorang pun yang berani meladeni tantangan H Abdul Latief. Mereka patuh pada seruan H Abdul Latief.  Ia menyuruh orang yang berkerumun tadi kembali ke rumah masing-masing. Selamatlah nyawa Asisten Wedana


Seharusnya Asisten Wedana berterimakasih kepada H Abdul Latief karena kehadirannya telah menyelamatkan nyawanya. Tapi, dia justru menaruh kebencian kepada H Abdul Latief. Rupanya, dia sakit hati karena  rakyat lebih patuh kepada H Abdul Latief daripada kepada dirinya sebagai Asisten Wedana. Dia heran melihat kepatuhan penduduk kepada H Abdul Latief yang hanya orang biasa, bukannya kepada dirinya yang sedang berkuasa. Dia tidak rela melihat kepatuhan masyarakat  terhadap H Abdul Latief. Asisten Wedana  lalu berkomplot dengan 4 lurah terpandang untuk memfitnah H Abdul Latief.  Mereka  melaporkannya ke Pemerintah Jepang  bahwa yang menyuruh orang-orang mengambil barang-barang di PG Cukir adalah H Abdul Latief.


Karena laporan tersebut, H. Abdul Latief pun ditangkap dan ditahan oleh  Kenpetai.  Kenpetai dalah polisi militer Jepang yang tugas utamanya  mengusut, melacak, dan menghancurkan semua perkumpulan dan perorangan yang menentang atau menolak mengikuti dan menaati ketentuan Pemerintah Jepang. Saat itu Hasyim Latief benar-benar mengalami  penjajahan mental. Selama ayahnya dalam tahanan, ia bersama kakak tertua, kakak ipar, dan seorang adiknya tiap malam  membaca surat Yasin 41 kali dan  Shalawat Nariyah 3363 kali. Bacaan tersebut dibagi 4 orang. Kalau kebetulan kakak iparnya sedang pulang ke rumahnya, sekitar 6 kilo meter dari rumah KH Hasyim Latief, bacaan tersebut harus diselesaikan oleh KH Hasyim Latief bersama kakak dan adiknya.


          Tiap Kamis  KH Hasyim Latief berpuasa. Pukul 17.00, menjelang maghrib, ia berjalan menuju Desa  Betek, Kecamatan Mojoagung, ke makam Sayyid Sulaiman untuk berdoa agar ayahnya segera dapat keluar dari penjara. Setelah salat maghrib ia masuk ke makam hingga tiba waktu subuh untuk  mengkhatamkan   Quran. Kadang-kadang, pukul 11 malam ia keluar untuk beristirahat. Setelah makan ketan dan minum kopi, ia kembali  ke makam dan membaca Quran sampai khatam. Karena itu, meskipun saat itu  belum menguasai tata bahasa Arab, KH Hasyim Latief dapat membaca Quran dengan lancar.


Selama ayahnya dalam tahanan, tiap dua hari KH Hasyim Latief  mengantarkan pakaian dan satu rantang makanan. Tiap sore setelah asar, ia naik sepeda menuju penjara.   Bagi KH Hasyim Latief, tugas tersebut cukup berat, karena ia harus mengendarai sepeda yang masih menggunakan ban wungkul. Saat itu sepeda yang menggunakan ban angin – seperti sepeda saat ini —  sulit dicari dan harganya mahal. Karena menggunakan ban wungkul, maka kayuhannya terasa berat. Jika angin bertiup dari barat ke timur, naik sepeda dengan membawa rantang terasa berat sekali karena melawan arah angin. Rasanya, KH Hasyim Latief ingin menangis.


          Saat itu penderitaan KH Hasyim Latief bersama saudara-saudaranya sangat berat. Akibat serangan penyakit paru-paru, kakak tertuanya meninggal dunia di rumah famili ibunya di Kediri. Sejak saat itu, KH Hasyim Latief   tinggal di rumah bersama ibu dan kakak nomor dua bernama Muhammad – ayah budayawan  Emha Ainun Nadjib.


          Untuk makan setiap hari, KH Hasyim Latief berusaha mencari sendiri dengan menjual jajan. Selain terpaksa, ia juga merasa kasihan terhadap ibunya. Ia membuat  ampyang, yaitu jenis makanan terbuat dari aking yang digoreng dengan pasir kemudian dicampur dengan gula. Dalam memasarkan ampyang,  KH Hasyim Latief dibantu oleh teman-temannya. Mereka giat membantu mengirimkan  ke warung-warung. Bahkan, juga  ada yang menjual ke sekolah-sekolah.


          Penderitaan KH Hasyim Latief kian berat ketika ibunya meninggal dunia. Tentu saja KH Hasyim Latief sangat berduka. Namun, di balik rasa duka itu dia merasakan kepuasan tersendiri, karena di antara keluarga dan saudara-saudaranya dialah yang paling banyak menunuggui serta merawat ibunya. Bahkan, ibunya meninggal di pangkuan KH Hasyim Latief. Saat itu dia berusaha agar ayahnya diperkenankan pulang, tetapi tidak diperbolehkan. Jadi, ketika istrinya dimakamkan, H Abdul Latif tidak sempat menjadi saksi karena berada di balik jeruji penjara.


          H Abdul Latief  menjalani masa tahanan  di penjara Sudaru. Tugas KH Hasyim Latief yang berhubungan dengan ayahnya lebih ringan. Dia hanya mengirimkan pakaian dan makanan  sekali dalam seminggu, yaitu tiap Minggu pagi. Di luar hari Minggu, tahanan tidak diizinkan menerima kiriman pakaian dan makanan.




BAB KEDUA


Kutu Buku Santri KH Hasyim Asy’ari


KH Hasyim Latief kecil tidak mengenyam pendidikan formal. Ketika berusia 8 tahun, ia belajar di Pesantren Tebuireng. Dalam ingatan KH Muchith Muzadi, teman seangkatan di Tebuireng, KH Hasyim Latief belajar disanatahun 1938-1939. Pada waktu  itu  pendidikan di kalangan umat Islam, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), belum menggunakan sistem madrasi atau  klasikal.  Sistem pendidikan ini baru diterapkan sekitar 10 tahun kemudian.  Jadi,  dalam pengajaran, murid belum dipisahkan secara umur maupun ilmu pengetahuan.


Santri seangkatannya mencapai lebih dari 100 anak. Mereka mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai. Menulis pun dilakukan di atas lantai. Maklum, dampar (bangku) masih barang mahal waktu itu. Pengajaran diberikan menggunakan metode hafalan. Sesuatu yang tidak disukai oleh para  ahli pendidikan saat ini. Para santri ditempatkan di bilik-bilik yang disebut pondok. Ada juga yang menyebut bilik itu gutekan. Setiap bilik menampung 5 hingga 10 santri.


KH Hasyim Latief menempati sebuah bilik bersama  kakaknya dan 3 santri lain yang sama-sama berasal dari Kecamatan Sumobito. Ia menempati pesantren Seblak, salah satu bagian dari Pesantren Tebuireng, yang terletak sekitar 3 km sebelah utara Tebuireng. Pengasuhnya, KH Mahfudz Anwar yang kemudian dikenal sebagai ahli falaqnya NU. Ia juga bertindak sebagai lurah pondok.


Selain KH Mahfudz, di Pesantren Seblak juga terdapat lurah pondok  lain yang ditugaskan  kiai mengawasi para santrinya. Ia bernama Jaing, santri dari  Kudus yang pernah sekolah di HIS (Holland Indische School-sekolah Belanda setingkat SMP). Ia cukup pandai dalam mata pelajaran bidang umum. Selain menjadi lurah pondok, siang harinya ia  menyelenggarakan  kursus bagi para santri. Disanadiajarkan pelajaran berhitung,  ilmu bumi, dan membaca. Karena itu, pengetahuan pelajaran umum para santri meningkat.


Hadratus Syeh KH Hasyim Asy’ari juga ikut mengajar. Namun ia hanya mengajarkan kitab dan sifatnya monosuko.  Artinya, tidak ada keharusan bagi para santri untuk mengikutinya. Ini berbeda dengan pengajaran di madrasah yang waktunya telah ditentukan, yakni tiap usai shalatlima waktu.


KH Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama besar. Ia  belajar di Makkah selama beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama. Dalam buku yang ditulis oleh As’ad, penulis Arab yang menulis sejarah para pahlawan – terutama para ulama – Asia Tenggara, dijelaskan bahwa ketika akan pulang ke Indonesia KH Hasyim Asy’ari bersama teman-temannya dari Afrika  berikrar untuk  mendidik rakyat agar tidak terus-menerus dijajah.


KH Hasyim Asy’ari adalah ulama yang sangat alim, terutama dalam bidang ilmu Hadis. Beliau  sangat ahli dalam ilmu Hadis. Pada tiap bulan puasa beliau mengajarkan kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga tiap bulan Ramadhan banyak santri dan kiai yang datang ke Pesantren Tebuireng untuk mengikuti pengajian KH Hasyim Asy’ari. Mereka yang ingin mengaji bukan hanya para santri. Murid KH Hasyim Asy’ari yang telah lulus dan mendirikan pesantren sendiri, juga mengikutinya. Bahkan, banyak kiai ikut mengaji. Di antara mereka, ada yang datang bersama keluarganya dan tinggal di pondok Tebuireng.


KH Hasyim Asy’ari adalah ulama yang tidak pernah hidup dari pemberian orang lain. Ia juga  tidak pernah  menerima uang atau mengambil uang dari pondok pesantren. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil sawah yang terletak di desa Mbadas, sekitar 10 kilometer dari Tebuireng. Sawah ini digarapkan orang lain.  Biasanya, sekitar pukul 7.30 pagi setelah mengajar para santri, ia pergi ke sawah dengan  mengendarai dokar dan baru kembali pukul 11.00.


KH Hasyim Latief  beruntung karena dapat berguru secara langsung kepada KH Hasyim Asy’ari. KH. Hasyim Latif juga sempat mengikuti dua kali khataman Shahih Bukhar. Selain dari KH Hasyim Asy’ari dan KHMahfudh Anwar,ia juga mendapat didikan sejumlah ulama yang dihormati saat itu. Mereka adalah Kiai Syarkawi (Blitar), Kiai Da’im (Kudus), Kiai Nur Azis (Singosari), dan Kiai Syamsun (Gayam). Setelah 6 tahun belajar di Pesantren Tebuireng, KH Hasyim Latief kembali ke Sumobito. Tak lama kemudian, ia kembali mencari ilmu dengan mengaji ke KH Syamsul Huda Sumobito dan KH Arif Balongdowo, Jombang.


Otodidak


Ketika belajar di Pesantren Tebuireng, KH Hasyim Latief memiliki kegemaran membaca buku. Bagi seorang santri yang masih belia, membaca buku merupakan kebiasaan yang aneh. Ia mendapatkan buku bacaan dengan cara menyewa di habilitek, yaitu perpustakaan milik Pemerintah Belanda yang terdapat di kecamatan-kecamatan yang wilayahnya tergolong luas. Buku disana bagus-­bagus, kertasnya tebal dan mengkilap. Tulisan dan gambarnya juga jelas.


KH Hasyim Latief bisa membaca buku berhuruf latin karena sang ayah telah mengenalkan huruf latin sejak sebelum masuk pesantren. Pada zaman Belanda tulisan itu disebut tulisan gedrik. Mungkin ini diambil dari istilah bahasa Belanda gedrek, yang artinya huruf cetak.


Di antara buku yang digemari oleh KH Hasyim Latief adalah buku Pakem Ringgit atau pakem pewayangan. Dalam buku tersebut tiap lembar terdapat gambar wayang,  seperti Arjuna, Werkudoro, dan Kresna. Mula-mula KH Hasyim Latief tertarik melihat gambarnya, dan akhirnya ia membaca isinya. Dalam waktu antara seminggu hingga sepuluh hari,  ia mampu menyelesaikan buku Pakem Ringgit yang berjumlah 20 jilid itu.


Usai menamatkan buku Pakem Ringgit, ia membaca buku-buku lain. Ia memilih buku berdasarkan kesukaannya. Roman Siti Nurbaya dan  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk disantapnya. Kegemaran KH Hasyim Latief membaca buku umum sempat menganggu tugas utamanya belajar di pesantren. Pelajaran-pelajarannya di madrasah sempat kedodoran. Ia hanya membuka buku pelajaran pesantren pada tiap Jumat malam. Sebab, besoknya, Sabtu, ia harus melakukan tamrin (ulangan).


Buku lain yang pernah ia baca adalah Pahlawan 4 Serangkai, Di Tubuh Rembulan Malam, dan Komedi Monyet yang terdiri atas 5 jilid. Buku dicetak dalam bundel tebal. Dalam perjalanannya, kebiasaan KH Hasyim Latief membaca buku-buku non pesantren tidak membuatnya tertinggal dalam pelajaran. Ia yang memiliki bekal otak encer dan daya ingat tinggi mampu menyerap pelajaran madrasah yang diajarkan dengan sistem hafalan. Tanpa belajar pun, ia mampu mengingat secara baik materi pelajaran.


Cibarusa


Pada 7 September 1943, Gatot Mangkupraja, teman perjuangan Bung Karno, menulis surat kepada Saiko Shikikan, petinggi Jepang di Indonesia. Gatot Mangkupraja meminta kepada Saiko Shikikan agar di Jawa dibentuk pasukan sukarelawanIndonesia. Dalam waktu kurang dari sebulan, permintaan tersebut dikabulkan.  Saiko Shikikan mengeluarkan dekrit dibentuknya tentara sukarela dengan nama Pembela Tanah Air (PETA).


Berdirinya PETA disambut rakyatIndonesia  dengan penuh semangat. Tempat-tempat pendaftaran di seluruh Jawa dibanjiri para pemuda yang mengin menjadi anggota PETA. Banyak pemuda Islam dari pondok pesantren, madrasah, dan anggota kepanduan — termasuk pandu Ansor yang mendaftar.Parakiai dan pemimpin Islam turut merestui dan mendorong mereka.


Latihan bagi calon opsir PETA dibuka akhir Oktober 1943, bertempat di Bogor. Di antara para kiai dan pemimpin kaum pergerakan yang mengikuti latihan ialah:  KH Sam’un dan KH Khotib (Banten), KH Basuni (Sukabumi), Mr Kasman Singodimejo, KH Idris, Tunus Anis, Mulyadi Djojomartono, Arudji Kartawinata, KH A Khaliq Hasyim, KH Wahib Wahab, KH Mahfud, dan Sudirman.


Karena banyak pemuda Islam yang tidak bisa masuk PETA, maka para kiai dan pemimpin Islam yang terhimpun dalam Masyumi, yaitu federasi ormas Islam yang dibentuk oleh Jepang, mengusulkan agar Saiko Shikikan membentuk pasukan sukarela khusus. Pasukan ini terdiri atas pemuda-pemuda santri, yang akan menjadi korps cadangan tentara PETA, sebagai adik kandung PETA.


Sebenarnya Jepang, melalui Abdul Hamid Ono, sudah  meminta kepada KH Wahid Hasyim agar para pemimpin Islam mengerahkan para santri untuk masuk pasukan kemiliteran yang bernama Heiho. Tetapi, permintaan itu tidak dipenuhi oleh KH Wahid Hasyim. Beliau menjawab bahwa para santri lebih baik diberi latihan kemiliteran  untuk pertahanan di dalam negeri. Sebab, mempertahankan sejengkal tanah di tanah air akan lebih menggugah semangat para santri daripada bertempur di daerah yang letaknya  jauh dari tanah air. Selain itu, tugas menghadapi tentara Sekutu dimedanperang harus diserahkan kepada tentara-tentara profesional, yaitu tentara Dai Nippon. Tentara-tentara yang kurang terlatih justru akan mempersulit tentara Jepang yang terlatih.


Faktor lain yang melatarbelakangi timbulnya keinginan tokoh-tokoh Islam untuk mendidik kemiliteran bagi pemuda santri ialah bahwa perang untuk mempertahankan agama Allah hukumnya wajib. Atas nama pimpinan Masyumi, KH Wahid Hasyim mengusulkan keinginan tokoh-tokoh Islam itu melalui Abdul Hamid Ono, seorang Jepang yang ditugaskan memata-matai KH Wahid Hasyim.


Dalam pidato resmi 8 Desember 1944, Saiko Shikikan mengumumkan dikabulkannya permintaan para pemimpin Islam untuk mendirikan korps sukarelawan Islam yang kemudian diberi nama Laskar Hizbullah (Tentara Allah), yang persaratan umurnya paling tinggi 25 tahun. Sedangkan yang berusia 40 tahun ke atas masuk dalam Laskar Sabilillah.


Januari 1945, dibentuk  dewan pimpinan Hizbullah dengan KH Zainul Arifin sebagai ketua komandan dan Mr Moch Roem sebagai wakil ketua. Sedangkan anggota pengurusnya, antara lain: KH Iman Zarkasi,S Surowijono, Soedjono Hadisoediro, dan Anwar Tjokroaminoto.


Setelah Hizbullah terbentuk, para tokoh umat Islam segera mengampanyekan kepada seluruh umat Islam di Jawa, Sumatera,Kalimantan, dan daerah-daerah luar Jawa. Untuk mengumpulkan para pemuda Islam yang hendak dilatih kemiliteran, tokoh-tokoh Islam tidak menemui kesulitan, karena para pemuda Islam telah memiliki kesadaran tinggi dalam membela tanah airnya. Banyak santri yang dengan kesadarannya sendiri serta restu dari para kiai bersedia menjadi anggota Lasykar Hizbullah.


Pendidikan kemiliteran bagi anggota Lasykar Hizbullah dipusatkan di Cibarusa, Jawa Barat, diikuti oleh 500 pemuda Islam dari Jawa dan Madura.  Kota-kota karesidenan yang mengirimkan utusan ialah Jakarta, Banten, Surabaya, Sukabumi, Priangan, Purwakarta, Bogor, Pekalongan, Purwokerto, Kedu, Surakarta, Semarang, Pati, Jogjakarta, Madiun, Kediri, Bojonegoro, Malang, dan Besuki. Tiap-tiap karesidenan mengirimkan 25 orang. Parasantri di Jombang yang dikirim ke Cibarusa adalah Hasyim Latief, Sa’dullah (paman Hasyim Latif), Ma’shum, dan seorang santri dari Madura yang bernama Muhammad Nur. Saat itu KH Hasyim Latief berusia 16 tahun dan baru belajar mengajar di Madrasah Khoiriyah Sumobito.


KH Hasyim Latief merasakan beratnya pendidikan kemiliteran di Cibarusa. Namun, ia mengakui gemblengan yang dilakukan  Pemerintah Jepang sangat hebat. Sejak berangkat ke tempat latihan para peserta telah digembleng secara fisik dan mental. Mereka diberangkatkan dengan kereta api. Sesuai rencana awal keberangkatan,  para peserta akan diturunkan di Jakarta. Tetapi, ternyata diturunkan di stasiun Cikampek. Setelah beristirahat sejenak di Cikampek, pada pukul 17.30 mereka naik kereta api jurusanBandung. Tetapi, mereka tidak keBandung, melainkan menuju  arah selatan hingga turun di  stasiun terakhir.


Saat itulah gemblengan dimulai.  Untuk mencapai tempat latihan yang terletak di tepi sebuah hutan,  peserta dinaikkan lori, kereta pengangkut tebu, tetapi tidak ditarik dengan mesin loko. Untuk menjalankan lori, para peserta mendorong secara bergantian. Padahal, kondisi tanah tidak datar, tetapi bergelombang. Setelah semua berada di atas lori, tiga orang mendorong, dan ketika lori sudah melaju, mereka naik. Ketika berada di jalan menanjak, semua peserta ikut mendorong lori. Bila telah sampai di posisi yang tinggi dan hendak menurun, mereka semua naik beramai-ramai.


Sekitar pukul 23.00 mereka sampai di tempat latihan, di tepi sebuah hutan jauh dari perkampungan. Mereka ditempatkan di barak yang panjangnya kurang lebih 50 m dengan lebar 10 m. Barak tersebut terbuat dari  bambu dengan atap welit. Tempat tidurnya juga terbuat dari bambu yang disebut bayang dan di bagian atasnya diberi tikar. Di atas bayang diberi gawang untuk tempat pakaian.Ada tempat untuk mandi, tetapi tidak ada tempat buang air. Kalau buang air harus ke sawah yang letaknya cukup jauh.


Barak tersebut terletak di tengah lapangan yang dikelilingi pagar kawat berduri, sehingga orang yang berada di dalam barak tidak bisa keluar. Tanahnya liat sekali, berwarna kemerah-merahan. Jika diguyur air hujan tanah menjadi becek. Jika diinjak tanah melekat ke bagian bawah bakiak. Bakiak pun tidak bisa digunakan lagi dan harus ganti.


Latihan diselenggarakan di Cibarusa selama 4 bulan, dipimpin olah para Syodanco (Komandan Kompi)  PETA (Pembela Tanah Air) yang terdiri atas Abdullah Sajad, Zaini Nuri, Abd. Rahman, Kamal Idris, dan lain-lain. Yang bertindak sebagai komandan latihan adalah seorang opsir Jepang Kapten Yanagawa, yang setahun sebelumnya melatih tentara PETA. Materi latihan meliputi baris-berbaris, bongkar pasang senjata, perang gerilya, dan sebagainya.


Pada malam hari mereka diberi bekal pendidikan kerohanian yang disampaikan oleh KH Wahid Hasyim,  KH Zarkasi (Ponorogo), KH Mustofa Kamil (Singaparna), KH Mawardi (Solo), KH Mursyid (Kediri), dan KH Abdul Halim (Majalengka). Selain memberikan ceramah agama, KH Abdul Halim juga memberikan teknik membuat alat peledak.


Latihan kemiliteran di Cibarusa dibuka 28 Pebruari 1945. Upacara pembukaan dihadiri oleh Gunseikan, para perwira balatentara Dai Nippon, Pemimpin Pusat Masyumi, Pangreh Praja, dan lain-lain.Paraanggota Laskar Hizbullah mengikuti upacara dengan berseragam biru, berkopiah hitam putih dengan simbol bulan sabit dan bintang.


Tiap hari latihan dimulai dengan melakukan lari pagi. KH Hasyim Latif memiliki kenangan menarik ketika mengikuti lari pagi. Saat itu Sa’dullah belum mendapat sepatu karena sepatu yang disediakan ukurannya kurang besar bagi kaki Sa’dullah. Sementara sepatu kiriman dari Jakartabelum juga datang. Ketika berlari menuju Karawang harus melalui jalanan yang kerikilnya tajam. Karena tidak bersepatu, Sa’dullah pun kesakitan hingga ia misuh-misuh (mengumpat).


Seusai melkukan apel dan gerak badan ala Jepang yang disebut taiso.  Sebelum apel  peserta membaca ikrar sebagai berikut: Rodliitu billahi rabba, wabil Islaami dina, wabi Muhammadin Nabiyya wa Rasula.  Mereka membaca ikrar tersebut dengan serentak dan suara keras. Setelah gerak badan mereka istirahat, makan, kemudian mengikuti pelajaran.


Setelah latihan berlangsung sekitar dua bulan, hampir seluruh  peserta latihan kemiliteran Lasykar Hizbullah terserang wabah disentri. Penyakit ini seperti penyakit kolera, dan ketika buang air penderita merasa sakit dan kotorannya bercampur lendir. Setelah dilaporkan kepada Pemerintah Jepang di Jakarta, diinstruksikan agar para peserta tidak diberi makan nasi. Sejak saat itu para peserta hanya diberi makan wortel dan lobak.


Semua peserta menderita karena tidak makan nasi. Namun, KH Hasyim Latief lebih menderita karena hanya makan wortel dan tidak tahan terhadap bau lobak yang menusuk hidung. KH. Hasyim Latief selalu muntah jika mencium bau lobak. Selain itu, setiap orang disuruh makan gula batu. Jadi, setiap orang diberi kantongan untuk membawa gula batu. Ketika ke kamar mandi, gerak badan, apel, dan latihan mereka tidak pernah melepaskan kantongan gula batu karena harus terus-menerus makan gula batu. Setelah sebulan makan gula batu, mereka berangsur-angsur sembuh.


Akhir Mei 1945, latihan ditutup dengan upacara kebesaran dan sekaligus melantik 500 orang opsir Hizbullah yang diberi tugas untuk memimpin Laskar Hizbullah di daerah masing-masing.  Setelah dilantik para opsir Hizbullah mengadakan acara perpisahan yang sangat mengharukan. Mereka bersalam-salaman sambil mengucapkan kata-kata, Selamat berpisah, sampai bertemu lagi di surga.”


Kuliah di UII


Pemerintah Soekarno pernah mencurigai KH  Yusuf Hasyim terlibat Pemberontakan DI/TII. Tudingan Presiden Soekarno berimbas pula ke KH Hasyim Latief karena ia berada dalam satu barisan dengan KH Yusuf Hasyim. Tuduhan ini sempat menyeret KH Hasyim Latief ke meja hijau. Namun, ia kemudian melarikan diri keYogyakartadan masuk ke UII (Universitas IslamIndonesia).


Versi lain menyebutkan, kepergian KH Hasyim Latief keYogyakartasebagai bentuk penolakan terhadap perintah Presiden Soekarno untuk memberantas pemberontakan Kahar Muzakar di Makassar. KH Hasyim menolak berperang dengan sesama muslim.


Namun, ada versi ketiga yang mengatakan ia lari keYogyakartakarena dituduh terlibat DI/TII sebagai akibat sering mengajak anak buahnya di TNI melakukan tahlilan dan istighotsah. Versi ini diungkapkan Suhaimi Syakur, mantan Ketua Lembaga Ma’arif PWNU Jawa Timur.


Adajuga yang mengisahkan, pelarian KH Hasyim Latief ke UII akibat tertangkapnya KH Yusuf Hasyim dengan tuduhan terlibat DI/TII. KH Hasyim Latief adalah anak buah KH Yusuf Hasyim sehingga ia mendapatkan tudingan yang sama. KH Yusuf Hasyim tertangkap dan diadili. Ia mendapat hukuman dibuang ke Mesir sementara Chaerul Saleh ke Belanda. Di Mesir KH Yufuf Hasyim tidak kerasan dan atas jasa baik KH Idham Chalid balik keIndonesiasedang Chaerul Saleh bersekolah hingga lulus di Belanda.


Ihwal pelarian KH Hasyim Latief ini juga dikisahkan oleh KH Muchith Muzadi yang secara tak sengaja berjumpa di kantor PBNU Jakarta. Sebuah pertemuan setelah sekian tahun tak bersua. Mereka terakhir bertemu saat sama-sama bertugas di Tuban. Demi melihat KH Hasyim Latief berada di kantor PBNU, KH Muchith Muzadi langsung bertanya, “Kenapa kang (mas) sampean di sini.” KH Hasyim Latief menukas, “Diam jangan omong keras-keras. Saya di sini sembunyi. Satu batalion saat ini mencari saya.” Ketika itu sekitar tahun 1956.


Azis, karib KH Hasyim Latief di UII mengatakan, mereka berdua sama-sama masuk ke perguruan tinggi swasta tertua diIndonesiaitu tahun 1955-1996. Di kampus ini, dulu dikenal kelas pendahuluan. Kelas ini untuk menampung santri yang akan melanjutkan kuliah.Parasantri ini dididik selama setahun hingga dua dua tahun. Setelah itu mereka melanjutkan masuk fakultas dengan ujian “bordium pictum”. Yaitu semacam ujian persamaan SMA. Mereka menempuh ini karena tidak memiliki ijazah SMA.


Di UII, KH Hasyim Latief menggunakan nama Munir sebagai cara menghapus jejak agar tak dikejar-kejar pemerintah Soekarno. Nama ini kelak melengkapi nama aslinya, Hasyim Latief. Sehingga ia kelak menggunakan nama Munir Hasyim Latief. Disana, ia memilih fakultas hukum.


Selama kuliah di UII, KH Hasyim Latief dipilih sebagai Ketua  Mahasiswa UII dan Azis sekretarisnya. Mereka saat itu juga menggulirkan perombakan UII karena dipimpin oleh kalangan orang tua.Paramahasiswa menghendaki dimasukkannya unsur muda ke dalam UII. Hasyim Latief dan Azis berusaha menemui orang-orang penting UII waktu itu seperti UmarNasseryang masih dalam tahananMalang. Juga menemui Burhanuddin Harahap.


Untuk keperluan biaya kuliah, KH Hasyim Latief membuka usaha stensilan (percetakan menggunakan mesin stensil). Ia bersusah payah berjuang menghidupi diri diYogyakarta. Berkat usaha kerasnya, ia mampu menyelesaikan kuliah hingga tingkat sarjana muda dengan gelar BA (Bachelor of Arts).  Tak lama kemudian ia menikahi gadis Sepanjang bernama Djauhariyah. Meski telah menikah, KH Hasyim Latief masih pulang balik Yogyakarta-Sepanjang karena ia masih diincar untuk dijebloskan penjara.




 BAB KETIGA
Patriot Hizbullah Benteng Kemerdekaan 


Setelah kembali ke daerah asal, para opsir Hizbullah  menyelenggarakan latihan untuk mendidik para calon anggota Laskar Hizbullah di daerah masing-masing. Sejak saat itu di seluruh kabupaten di Jawa Timur mulai diselenggarakan latihan kemiliteran bagi para pemuda santri untuk mempersiapkan diri membebaskan tanah air dari cengekeraman penjajah.


KH Hasyim Latief bersama tiga temannya yang telah mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusa melatih  120  pemuda santri di Pesantren Seblak. Setelah melatih para pemuda, KH Hasyim Latief kembali ke Tebuireng untuk mengajar dan memimpin taiso. Laskar Hizbullah Jombang didirikan atas desakan KH Hasyim Asy’ari kepada KH Wahab Hasbullah, akhir Agustus 1945, tak lama setelah kemerdekaan RI diproklamasikan.


Perintah K.H. Hasyim Asy’ari untuk memobilisasi pemuda di Kabupaten Jombang segera disampaikan KH Wahab Hasbullah kepada H Affandi, seorang dermawan yang pernah ditahan oleh Jepang bersama KH Hasyim Asy’ari. Kemudian H Affandi menghubungi A Wahib Wahab, putra KH Wahab Hasbullah yang menjadi Syodanco PETA. H Affandi meminta agar A Wahib Wahab bersedia memimpin Laskar Hizbullah yang akan didirikan.


Setelah diadakan musyawarah, terbentuklah pengurus Hizbullah Jombang sebagai berikut: Komandan A Wahib Wahab, Sekretaris Sa’dullah dan H Zaini Dahlan; Pelatih                         Hasyim Latief dan Ahmad Zubair; Bagian Perlengkapan H Affandi, Harun dan Mahfudz; Bagian Kesehatan  Hadikusumo, Farhan dan Abd Syukur; Bagian Kerohanian KH Fatah, Kiai Ahmad dan H Ridwan; Bagian Dapur Masukri.


Setelah membentuk badan kepengurusan,  Hizbullah Jombang mengundang para pemuda untuk mengikuti latihan kemiliteran. Pengumumannya disebarkan ke desa-desa dan pesantren-pesantren. Antusiasme para pemuda Jombang dalam mengikuti latihan kemiliteran sangat besar.


Dibanding daerah lain, jumlah pemuda di Jombang yang ingin menjadi  anggota Laskar Hizbullah  jauh lebih besar. Selain dari desa-desa atau kecamatan, mereka juga berasal dari pesantren-pesantren. Karena jumlahnya sangat banyak maka latihan dilaksanakan tiga gelombang. Tiap gelombang berjumlah 500 pemuda. Jadi, seluruh anggota Hizbullah Jombang 1.500 pemuda.


Pendidikan dilaksanakan di perumahan pabrik gula yang telah dijadikan asrama. Pelatihnya tiga orang, yaitu  KH Hasyim Latif  (alumni Cibarusa), Ahmad Zuhri (mantan anggota PETA), dan Syamsi (mantan anggota Heiho). Latihan kemiliterannya dilaksanakan di beberapa tempat, yaitu lapangan Sambong, lapangan Tunggorono, alun-alun, dan beberapa tempat lain.  Hizbullah Jombang cukup beruntung karena pada saat latihan telah menggunakan beberapa pucuk karabijn buatan Jepang dan Belanda. Anggota yang tidak kebagian senjata menggunakan senjata tiruan.


Pada 20 Oktober 1945, Hizbullah Jombang berhasil membentuk satu batalyon pasukan dengan susunan sebagai berikut: Komandan A Wahib Wahab; Kepala Markas  Sa’dullah; Pelatih Ahmad Zubair; Wakil Pelatih Hasyim Latief; Komandan Kompi I Alikar; Komandan Kompi II A Choliq S; Komandan Kompi III Indon Kardjani; Komandan Kompi IV Mursaid Mashar.


Ketika di Surabaya terjadi pertempuran 10 Nopember, Hizbullah Karesidenan Surabaya disatukan dalam satu divisi yang diberi nama Divisi  Sunan Ampel, dipimpin oleh A Wahib Wahab.  Penggabungan ini bertujuan untuk memperkokoh serta meningkatkan badan perjuangan umat Islam.


Pada awal didirikan, sifat keorganisasian Hizbullah semi massal. Masing-masing kelompok, mulai tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten, berdiri sendiri dan belum terorganisir secara rapi. Setelah terbentuknya Divisi Sunan Ampel, pasukan dibentuk secara reguler dan teratur, mulai kompi, peleton, seksi, dan regu. Sejak saat itu di setiap kawedanan terdapat satu batalyon pasukan dan di tiap kecamatan terdapat kompi-kompi.


Setelah tergabung dalam Divisi Sunan Ampel, Hizbullah Jombang menjadi Resimen III. KH Hasyim Latief bersama pasukan Hizbullah Resimen III tidak berperan dalam pertempuran 10 Nopember, karena saat itu masih berada di Jombang. KH Hasyim Latief dan pasukan Hizbullah Jombang pertama kali maju ke front Sidoarjo ketika tentara Inggris bermarkas di Buduran, sebelah utara Kota Sidoarjo.


Atas instruksi A Wahib Wahab, KH Hasyim Latief berangkat bersama dua kompi pasukan yang dipimpin oleh Komandan Kompi masing-masing, dengan jumlah pasukan sekitar 200 orang, disertai beberapa orang kiai. Ketika hendak berangkat dilakukan seleksi. Anggota yang tidak lolos seleksi tidak boleh maju ke front, dan mereka menangis dan memaksa untuk ikut maju ke front, tetapi tetap tidak diperkenankan.


Di antara 200 orang pasukan, yang bersenjata karabijn cuma 7 orang. Selebihnya hanya membawa bambu runcing. Ketika berangkat, Komandan A Wahib Wahab menjanjikan bahwa pasukan akan diberi senjata setelah tiba di front. A Wahib Wahab ikut mengantarkan pasukan ke Sidoarjo. Tiba di Sidoarjo, dia masuk markas TKR, kemudian keluar membawa dua peti granat gombyok buatan Mrican, Kediri.


KH Hasyim Latief bersama pasukan Hizbullah Jombang mendapat perintah untuk bersiaga di front terdepan, di jembatan putus yang terletak di sebelah utara Kota Sidoarjo. Sedangkan TKR dari Malang berada di belakang pasukan Hizbullah Jombang.  KH Hasyim Latief berusaha mengobarkan semangat anak buahnya agar tidak gentar menghadapi musuh, meskipun persenjataannya tidak memadai. A Wahib Wahab memberikan doa selamat, kemudian  kembali ke Jombang.


Sehari kemudian, malam hari sekitar pukul 19.00, seorang anak muda asal Bawean  bernama Ahmad Asnawi, menemui KH Hasyim Latief dengan pakaian compang camping. Ia datang bersama seorang wanita. Ia adalah anak buah KH Hasyim Latief yang ditangkap dan ditawan oleh Inggris ketika ia menyelidiki markas tentara Inggris di Buduran  atas perintah KH Hasyim Latief, dan ia berhasil meloloskan diri.  Asnawi melaporkan bahwa tentara Inggris telah rampung memperbaiki jembatan di Buduran. Tank berderet-deret di jalan raya, dan esok hari mereka akan menyerbu Sidoarjo.


Dalam pertempuran 10 Nopember di Surabaya,  tiap-­tiap pasukan disertai para kiai. Para kiai berada di semua lini karena mereka  memang ikut berjuang. Pasukan Hizbullah Jombang disertai lima kiai, yang sebagaian besar dari Cirebon. Di antara mereka ada yang berperawakan tinggi besar memakai  udeng. Keberadaan para kiai menggembirakan semua anggota pasukan karena para kiai memiliki kesaktian yang dapat membantu para pasukan. Dengan adanya para kiai para prajurit merasa terlindungi.


Setelah mendengar laporan anak buahnya, KH Hasyim Latief menemui para kiai di markas kiai Desa Pagerwojo, sebelah barat Kota Sidoarjo. Dia mengeluh serta mengadukan pasukannya yang hanya memiliki 7 pucuk senjata. Dia minta petunjuk untuk memperoleh senjata. Menanggapi keluhan KH Hasyim Latief, seorang kiai sepuh masuk, kemudian keluar lagi dengan  membawa gelas berisi air dan diberikan kepada KH Hasyim Latief. KH Hasyim Latief pun melakukan protes, bahwa yang dia inginkan   bukan senjata batin, melainkan senjata lahir berupa senapan. Akan  tetapi, setelah diberi wejangan oleh sang kiai, hati KH Hasyim Latief menjadi mantap bahwa ia bersama pasukannya akan dapat bertempur menghadapi tank-tank tentara Inggris dan Belanda.


Kesokan harinya, sekitar pukul 5.30,  tentara Inggris dan Belanda benar-benar melancarkan serangan atas kota Sidoarjo. Sejak subuh terdengar suara tembakan  mortir amat gencar. Pasukan TKR dari Malang mundur karena ketakutan. Padahal,  mereka banyak yang bersenjata, setiap 10 orang membawa 5 senjata. Mereka mundur dan melarikan diri karena tidak memiliki keberanian menghadapi gencarnya tembakan mortir.


Menghadapi keadaan seperti itu, KH Hasyim Latief  pergi ke markas para kiai. Tetapi, markas sudah kosong dan seluruh isinya telah diamankan. Mereka  menghindar ke arah barat, ke dapur umum yang terletak di lini kedua. KH Hasyim Latief segera kembali menemui pasukannya dan menyuruh mereka berlindung di masjid agar mendapat keselamatan.


Untuk menghindari sasaran tembakan musuh, KH Hasyim Latief memerintahkan semua anak buah merangkak  menuju  rel kereta api. Ketika mereka sampai di dekat rel kereta api, tiba-tiba muncul seorang Gurkha (pasukan bayaran Inggris berkebangsaan Nepal). Dia mengangkat watermantel dan menembakkannya ke arah pasukan KH Hasyim Latief. KH Hasyim Latief berlari ke kebun, kemudian bersembunyi di bawah pohon besar di balik rerimbunan pohon bambu. Dia melihat beberapa orang  tentara  Inggris, Belanda, dan Gurkha berjalan  ke arah selatan.


KH Hasyim Latief bersama anak buahnya bersembunyi hingga malam hari. Mereka baru keluar dari persembunyian sekitar pukul 19.00, ketika keadaan telah sepi. Mereka bergerak ke selatan melalui perkampungan dan kebun-kebun,  terus ke selatan sampai jalan besar. KH Hasyim Latief melihat sekitar 35 tentara Inggris sedang berjaga sambil menyalakan api. Mereka memergoki KH Hasyim Latief bersama anak buahnya dan langsung menembakkan senjatanya dan mengenai sebuah pohon hingga tumbang. KH Hasyim Latief  melompat untuk menghindari tembakan yang bersuara mirip kicau burung.


Setelah Kota Surabaya jatuh,  para pejuang RI beberapa kali melakukan serangan untuk merebut kembali Surabaya dari tangan musuh. Upaya tersebut dinamakan Serbuan  Oemoem Surabaja (SOS). Dalam melakukan SOS semua elemen pejuang bergerak dan melakukan penyerbuan secara bersama-sama. KH Hasyim Latief mendapat kesempatan   dua kali mengikuti SOS,  pada tahun 1947 dan  awal tahun 1948. Ketika komando SOS dikeluarkan, dia berada di Tulangan, arah tenggara Sidoarjo. Jadi, dia melakukan penyerbuan dengan berangkat dari Tulangan.


Pada SOS kedua, KH Hasyim Latief  ditunjuk menjadi komandan  pertempuran. Untuk melakukan persiapan, dia melakukan konsolidasi di Perning. Dia mendapat bantuan pasukan Sabilillah dari Jombang dan Mojokerto. Sabilillah adalah pejuang Muslim yang berusia di atas 40 tahun, yang anggota pasukan serta komandonya terpisah dengan Hizbullah.  Tidak seperti pasukan Hizbullah yang strukturnya sudah tertata rapi sebagaimana kesatuan militer, pasukan Sabilillah tidak terorganisir dengan rapi.


Mereka memiliki komandan, tetapi tidak memiliki satuan  kompi, pleton, dan regunya. Sehingga setelah mereka datang KH Hasyim Latif disibukkan oleh tugas  menata pasukan. KH Hasyim Latief benar-benar dibuat repot karena keesokan harinya, ketika dipanggil untuk diatur dalam satuan regu, banyak yang berpamitan pulang dengan berbagai alasan. 


Ketika terjadi serbuan umum, rakyat yang tinggal di medan pertempuran melarikan diri. Mereka berkumpul di rumah-rumah untuk berdoa. Jadi, yang menghafal doa-doa  bukan hanya para pejuang, semua rakyat juga menghafal doa-doa yang diberikan para kiai.  Misalnya, bila ada pesawat terbang musuh, mereka berdoa. Hal itu mereka lakukan untuk menambah kekuatan serta memohon keselamatan dari Tuhan. Mereka tidak segan-segan minta ijazah kepada para kiai untuk diamalkan.  


TNI


Pada 5 Mei 1947, pemerintah menyatukan Tentara Republik Indonesia (TRI) dengan badan-badan kelaskaran. Kemudian, pada 3 Juni 1947, pemerintah mengesahkan berdirinya  Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai satu-satunya wadah perjuangan bersenjata.


Dengan adanya keputusan tersebut, Hizbullah Divisi Sunan Ampel dan badan-badan kelaskaran di Jawa Timur, seperti Pesindo, BPRI, dan Laskar Minyak disatukan dalam Brigade 29. Hizbullah Divisi Sunan Ampel menjadi Resimen  293 dengan komandan Letkol A Wahib Wahab dan Mansur Sholichy sebagai kepala staf.             Setelah mengalami perubahan status yang mendasar, secara perlahan-lahan anggota Hizbullah dapat menyesuaikan diri menjadi pejuang profesional, dan semangat juangnya tetap menyala. Terhadap kesediaan Hizbullah meleburkan diri kedalam TNT, Panglima Besar Jenderal Sudirman mengatakan bahwa itu merupakan  bukti Hizbullah adalah kelaskaran yang mementingkan derajat negara daripada golongan sendiri, serta wujud kepatuhan dan ketundukan kepada komando dan perintah atasan.  


Penggabungan laskar ke dalam TNI sangat merugikan kaum komunis. Karena itu, mereka tetap berusaha menghimpun kekuatan sebanyak­-banyaknya, yakni dengan menarik pasukan-pasukan mereka yang sudah masuk  jajaran TNI. Karena itu, Agustus 1947 Meteri Pertahanan Amir Syarifuddin membentuk sebuah wadah yang disebut TNI masyarakat, yang selanjutnya dijadikan TNI tandingan.


Jumlah anggota TNI pun terlalu banyak dan tidak seimbang dengan jumlah persenjataannya. Pada 27 Pebruari 1948 pemerintah mengeluarkan ketetapan Presiden No. 9 tentang Rekonstruksi dan Rasionalisasi. Mulai Maret 1948, ditetapkan perbandingan prajurit dengan senjata adalah 4:1 ( 4 prajurit memegang 1 senjata). Dan,  yang pertama kali disingkirkan dari jajaran TNI adalah anggota TNI masyarakat yang terdiri dari orang-orang komunis. Para opsir mengalami turun pangkat satu tingkat.


Untuk melaksanakan keputusan itu, pada bulan Mei 1948, TNI Resiman 293 diperkecil menjadi 2 batalyon, yaitu  Batalyon Mobil (Mobile Troep) dengan sebutan Yon Mansur Solichy, yang kemudian menjadi Batalyon 42 Diponegoro; dan  Batalyon Territorial (Territorial Troep ) dengan sebutan Yon Munasir, yang kemudian menjadi Batalyon 34 Codromowo. KH Hasyim Latief, yang saat itu berpangkat kapten, menjadi Komandan Kompi I Yon Munasir.


Setelah berkonsolidasi untuk melaksanakan rekonstruksi dan rasionalisasi, TNI menghadapi masalah besar. PKI memberontak di Madiun yang didalangi oleh Muso dan Amir Syarifuddin.  Pada 18 September 1948 PKI melancarkan kudeta, Muso dan Amir Syarifuddin memproklamirkan berdirinya “Negara Komunis Indonesia”. Sehingga di Madiun terjadi pertumpahan darah. Pada saat itu Badan Pekerja yang membicarakan masalah perdamaian bagi Belanda dan Indonesia mengadakan rapat di Jogjakarta. Pada penutupan rapat Presiden Soekarno mengadakan pidato radio, menganjurkan agar rakyat menentukan pemimpin negaranya: Muso-Amir atau Soekarno-Hatta.


Segera setelah mendengarkan pidato Presiden Soekarno, Kapten Rodhi As’ad atas nama Resimen 293 mengumumkan melalui RRI Surabaya yang berada di Jombang. Isinya, pasukan Hizbullah yang tergabung dalam Resimen 293 telah memisahkan diri dari Brigade 29, dan dengan tegas mengatakan berdiri di belakang kepemimpinan Soekarno- Hatta. Kapten Rodhi As’ad juga menghadap Komandan COPP yang berada di Jombang dan sekitarnya. 


Komandan Resimen 293 Mayor Mansur Solichy yang telah tiba di Jombang pada pukul 23.00 memerintah Kapten Rodhi As’ad untuk kembali menghadap Letkol Kretarto. Tetapi Letkol Kretarto tetap pada pendiriannya. Pada puku123:00 Mansur Solichy kembali memerintah Kapten Rodhi untuk meminta surat perintah. Bila Letkol Kretarto tetap pada pendiriannya, Mansur Solichy meminta agar Kapten Rodhy menangkap Letkol Kretarto. Sebab mereka harus bertindak pada saat itu juga. Karena PKI akan melancarkan pembakaran pondok-pondok pesantren dan masjid-masjid serta  membunuh para ulama dan para pemimpin Islam pada pukul 3 dini hari.


Kapten Rodhi As’ad segera berangkat dan setelah mendengar ancaman dari komandan Resimen 293 Letkol Kretarto mengeluarkan surat perintahnya. Dan, setelah menerima surat perintah, Mansur Solichy memerintah pasukannya untuk mendahului aksi PKI dengan menangkapi para gembong PKI. Pasukan PKI Jombang tidak bisa berkutik karena para pemimpinnya telah ditangkap oleh tentara Hizbullah yang dimulai puku 11:00 dua jam lebih awal dari pergerakan yang dijadwalkan PKI.


Pengamanan terhadap daerah Jombang selanjut dikuasai oleh Yon Munasir. Anggota Yon Mansur Solichy dikirim ke Bojonegoro untuk membantu Yon Ronggolawe. Mereka juga membantu perlawanan di Cepu yang menjadi sarang Laskar Minyak, pasukan TNI yang menjadi pendukung utama Muso–Amir. 


Gelagat pemberontakan itu sesungguhnya telah diendus oleh para pejuang Hizbullah. Rencana busuk itu telah tercium Hizbullah sejak di Madiun diselenggarakan Muktamar III Masyumi yang berlangsung 27-31 Maret 1948. Saat itu, kelompok sayap kiri yang terdiri dari pasukan Pessindo dan Laskar Minyak, yang bergabung dalam Resimen 291 dan 294 Brigade 29, merencanakan untuk menghancurkan kekuatan yang terdiri dari tokoh-tokoh Islam itu.


Setelah mendengar rencana itu, resimen 293 Hizbullah mengirim satu kompi pasukan resimen untuk mengamankan muktamar. Mereka bersenjata lengkap plus 4 senjata jenis 12,7. Mereka ini disokong empat seksi Hizbullah dari Solo dan Madiun dengan perlengkapan senjata ringan.


Ketika terjadi Agresi Belanda II,  pasukan Hizbullah Yon Mansur Solichy dan Yon Munasir bergerilya untuk merebut kembali kota Surabaya. Mereka berjuang bersama kesatuan dari Batalyon lain atas perintah Gubenur Militer Jawa Timur Panglima Divisi I Kolonel Sungkono, yang bersatu dalam “Komando Operasi Hayam Wuruk.”


Operasi Hayam Wuruk dipimpin Mayor Pamu Rahardjo, dengan kesatuan-kesatuan pendukung: Batalyon Bambang Yuwono (Yon BY), Batalyon Mansur Solichy (Yon M) Batalyon Isa Idris (Yon I), Batalyon Tjipto (Yon T) dan Batalyon Mobri. Mereka dibantu pasukan Yon Munasir yang dipimpin Kapten Syakir Husein. Dalam melakukan gerilya kali ini, Yon Munasir dipecah menjadi dua bagian. Sebagian mengikuti  Komando Operasi Hayam Wuruk, dan sebagian besar terdiri atas Kompi Hasyim Latif, Kompi Muhammad Mustofa Kamal, dan Kompi Farchan Achmadi bertugas di Jombang.


Pada bulan Pebruari 1949, Yon Munasir mendapat tugas di sektor utara Jalan Mojokerto-Kertosono. Mereka menyusun markas komando di Peterongan, Jombang. Dengan demikian, sejak Maret 1949 wilayah utara daerah Kertosono -Mojokerto menjadi daerah basis konsolidasi dan basis gerilya Yon Munasir. Sejak saat itu nama Batalyon Munasir diberi nama Batalyon Condromowo. Yang mengusulkan nama ini adalah Dan Yon Mayor Munasir.


Nopember 1949, ketika terjadi gencatan senjata, Brigade 16 melakukan penertiban administrasi. Semua anggota Yon Condromowo mendapat nomor register bernomor depan 113.  Setelah  terjadi penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada Pemerintah RI pada tahun 31 Desember 1949, Yon Condromowo mengambil alih kekuasaan di daerah Jombang. Yon Diponegoro yang dipimpin Mayor Mansur Solichy mengambil alih kekuasaan di Mojokerto.


Setelah diambil alih oleh Yon Condromowo dan Yon Diponegoro dari Hizbullah, keamanan di Jombang dan Mojokerto sangat terjaga. Tidak ada lagi gangguan yang meresahkan masyarakat. Setelah masuk daerah kota, kedua batalyon tersebut melakukan konsolidasi dan penertiban administrasi. Yon 113 Condromowo ditetapkan menjadi Yon 39 Condromowo dan Yon Mansur Slichy menjadi Yon 42 Diponegoro.


Tidak lama berselang, Yon 42 Diponegoro dipindahkan ke Tanjung Karang (Lampung). Sejak saat itu keamanan wilayah Mojokerto diserahkan kepada  Yon 39 Condromowo. Mula-mula KH  Hasyim Latief bertugas di Mojokerto. Ia kemudian dipindahkan  ke daerah Menganti, Gresik yang bertugas mengamankan  wilayah antara Surabaya dan Mojokerto.


Agustus 1950, KH Hasyim Latief bersama seluruh anggota Yon 39 Condromowo ditugaskan menjaga keamanan di daerah Karesidenan Bojonegoro, dengan markas batalyon di Tuban. Setelah memasuki masa damai, TNI terus melakukan konsolidasi. Yon 39 Condromowo berubah menjadi Yon 519 Resimen 17 Territorial V Brawijaya. Selain itu, juga terjadi penurunan pangkat setingkat, sehingga Dan Yon Mayor Munasir menjadi Kapten. KH Hasyim Latief dan para  Komandan Kompi yang semula berpangkat  Lettu menjadi Letda. Yang mengenaskan, semua semua prajurit satu yang telah bertempur bertahun-tahun turun menjadi Prajurit Dua.


Setelah sekitar satu setengah tahun bertugas di Karesidenan Bojonegoro, KH Hasyim Latif dan anggota Yon 519 ditarik ke asrama TNI AD di Gunungsari, Surabaya. Bersamaan dengan berakhirnya masa ikatan dinas pertama pada tanggal 31 Maret 1953, beberapa batalyon digabungkan dan Yon 519 dilikuidasi. Sejak saat itu, sebagian anggota Yon 519 menyatakan tidak melanjutkan ikatan dinas dan meninggalkan kesatuan.


Di antara mereka adalah Dan Yon Mayor Munasir, Dan Ki Staf Lettu Hasyim Latief,  Dan Ki III Lettu Mustakim Zen, serta sejumlah bintara dan prajurit. Mereka yang mundur berjumlah sekitar 20 persen dari total anggota. Sedangkan  anggota Yon 519 yang meneruskan ikatan dinas dipecah-pecah. Selanjutnya, mereka bergabung ke beberapa batalyon,  sebagian besar masuk Yon  F dan Yon G Brigade I.


Pelepasan anggota Yon 519 yang tidak meneruskan ikatan dinas dilaksanakan di lapangan asrama Yon 519 Gunungsari. Dalam perpisahan itu KH Hasyim Latief menangis karena teringat betapa susahnya ketika ia membangun pasukan dan mencari senjata. Pasukan yang dibangun susah payah pada masa krisis itu justru dipecah-pecah justru setelah kemerdekaan tercapai. 




BAB KELIMA


NU, SDSB dan Khitthah 1926


Darah NU kental mengalir dalam tubuh KH Hasyim Latief. Setidaknya, ini jika dilihat dari perjalanan KH Hasyim Latief yang sejak masih sangat muda menjadi santri KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.  Situasi ini membuat sebagian besar catatan harian KH Hasyim Latief muda kemudian bergumul dengan dunia kemiliteran, bergabung ke Hizbullah. Sebuah laskar rakyat yang beranggotakan banyak anak muda NU.


Pergumulan KH Hasyim Latif dengan NU makin kuat ketika di tahun 1960-an ia menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur. Saat itu, Ansor sedang bersaing keras dengan Pemuda Rakyat, organisasi underbouw PKI. Persaingan antara kekuatan-kekuatan politik di Indonesia makin kuat pada masa itu. Di Jawa Timur, gesekan yang sering terjadi adalah antara NU dan PKI.


Ini terjadi antara lain karena PKI  sedang giat menghimpun  kekuatan guna memenangkan pemilu yang saat itu belum jelas jadwalnya. Berarti, PKI berusaha mengalahkan perolehan suara NU, Masyumi dan PNI. PKI juga berusaha menggolkan undang-undang agraria (landreform) yang salah satunya mengatur kepemilikan tanah individu tidak boleh lebih dari 5 hektar mendapat reaksi keras kalangan kiai.


Ketika  pecah pemberontakan PKI 1965, KH Hasyim Latief menduduki posisi wakil ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Ketua PWNU dipegang KH Achmad Shiddiq  dan Rois Syuriah KH Makhrus Kediri.  Selanjutnya, dalam Konferensi Wilayah NU Jawa Timur 1972, KH Hasyim Latief terpilih sebagai wakil ketua PWNU Jatim. Ketuanya, KH Abdullah Shiddiq.  KH Hasyim Latief terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim pada Konferensi Wilayah NU Jatim di Pondok Pesantren Genggong, Probolinggo. Dalam posisi wakil, duduk antara lain KH Syafi’i Sulaiman (Kediri).


Sebagai Ketua PWNU Jawa Timur, KH Hasyim Latief memiliki banyak kesempatan membangun komunikasi tentang banyak hal dengan pengurus NU wilayah lain. Misalnya, persahabatannya dengan Ketua Umum MUI KH Sahal Mahfudz  kental sejak pengasuh Pondok Kajen Pati ini masih Rois Syuriah PWNU  Jawa  Tengah.


Khitmad KH Hasyim Latief  di NU makin beranjak ketika Muktamar NU di Situbondo 1984 ia masuk dalam wakil ketua PBNU. Ketua Umum PBNU ada di tangan KH Abdurrahman Wahid. KH Hasyim Latief  dan KH Sahal Mahfudz pun layaknya bersaudara kandung karena sama-sama pengurus PBNU. Jika  sedang di Surabaya, KH Sahal Mahfudz  sering  bermalam di rumah KH Hasyim Latief.


Pertanu


KH Hasyim Latief adalah pendiri Pertanu (Persatuan Tani dan Nelayan NU). Ini untuk melawan gerakan-gerakan PKI yang menggunakan Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 tahun 1960. PKI menggunakan massa-massanya dari BTI, Gerwani, dan Pemuda Rakyat untuk mengganggu, bahkan menyerobot tanah-tanah umat Islam. Alasannya, tanah itu melebihi ketentuan 5 hektare sesuai Landreform (Reformasi Agraria).


Undang-undang itu adalah pelaksanaan landreform yang dimanfaatkan oleh PKI. Terjadinya G 30 S PKI sesungguhnya bermula dari masalah ini. PKI ingin membentuk angkatan ke-5, yang mempersenjatai buruh tani. Banyak orang PKI yang mampu menguasai dan merayu aparat pemerintah. PKI juga menyusup ke polisi maupun TNI. Ada batalion yang komandannya bersimpati ke PKI.


NU bergerak menyusun kekuatan. Penggeraknya Subhan ZE (almarhum). Kekuatan untuk membendung petani dan nelayan dari gangguang PKI adalah melalui Pertanu. Makanya, menurut Mantan Ketua PWNU Jatim KH Syafi’i Sulaiman, pengurus Pertanu hampir semuanya mantan tentara.


Pertanu dibentuk 1963. Sebagai ketua Pertanu Jawa Timur ditunjuk Katamsi, seorang pegawai pasar dan Sukarno (sekretaris KH Hasyim Latief) menjadi sekretarisnya. Setelah Katamsi wafat, Sukarno menjadi penggantinya. Saat aktif di Pertanu, KH Hasyim Latief pernah mendapat laporan dari warga Bandung Jawa Barat bahwa sawah miliknya di Jember diserobot BTI/PKI. Untuk membicarakan hal ini, beliau menggelar sidang darurat.Sukarno mendapat tugas mewakili Jatim.


Karena lokasi sawah tersebut di Kabupaten Jember maka persidangan masalah ini digelar Pertanu di Jember dengan mengundang partai-partai. Sidang berlangsung selama 3 hari di sebuah hotel dan berhasil gemilang mengembalikan hak kepemilikan sawah tadi ke pemilik semula. Di sinilah KH Hasyim Latief mendapat julukan pemberani.


Pada 1967 beliau menggembleng kader NU di Seblak Jatipelem Jombang selama 3 minggu. Kabupaten Sidoarjo mengirim 5 orang wakilnya termasuk Sukarno. Kegiatan itu diikuti wakil-wakil NU se Jatim. Kegiatan itu dibagi beberapa gelombang. Sukarno masuk gelombang I. Kader-kader NU bentukan beliau dinamakan kader “Tunhanura” (Tuntutan Hati Nurani Rakyat) Jatim.


Sanksi SDSB


Tingginya komitmen KH Hasyim Latief terhadap NU ditunjukkan dengan tetap menghadiri rapat PBNU meski sedang sakit. Selama di PBNU, KH Hasyim Latief juga dikenal sebagai orang yang memegang prinsip. Kasus bantuan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah-lotere berkedok sumbangan untuk olah raga) yang sempat nyangkut di PBNU menjadi contohnya.


Kasus SDSB  ini melibatkan Sekretaris Jenderal PBNU H A Ghaffar Rahman.  Ketika kasus itu mencuat, KH Sahal Mahfudz sedang berada di Kantor PBNU  Jl Kramat Raya Jakarta bersama KH Hasyim Latief dan sejumlah pengurus PBNU lainnya. Menyikapi kasus tadi, mereka berinisiatif menyelenggarakan rapat Syuriah PBNU. Rapat ini juga diikuti KH  Yusuf Hasyim, KH  Munasir Ali,  dan KH  Ma’ruf Amin. KH Ali Yafie juga diundang, tetapi tidak datang.  Sedangkan Gus Dur masih berada di luar negeri.


Adalah KH Sahal Mahfudz yang  membuka rapat. Ia meminta agar  Ghaffar Rahman dipanggil untuk dimintai keterangan. Semua peserta rapat menyetujui .  Datanglah Ghaffar Rahman dalam forum itu dan langsung mengakui kesalahannya di hadapan para kiai.  Tak lama kemudian, KH Sahal Mahfudz menyuruh  Ghaffar Rahman keluar karena Syuriah NU akan mengambil keputusan untuk menjatuhkan sanksi.


Setelah Ghaffar Rahman keluar,  KH  Sahal Mahfudz berkata, “Kiai-kiai sudah mendengar sendiri pernyataan Pak Rahman.  Sekarang mari kita ambil  kebijakan. Karena ini menyangkut soal fiqih, kepentingan umat, dan citra yang kurang baik, maka perlu kita ambil tindakan dengan menskors  yang bersangkutan.”  Orang  pertama yang menyetujui usul itu adalah KH Hasyim  Latif.  Padahal,  Ghaffar Rahman adalah kader KH Hasyim Latief. Dia sekretaris PWNU Jawa Timur ketika KH Hasyim Latief  menjadi ketuanya. KH Hasyim Latief tidak menggunakan dalil fiqih untuk menyatakan persetujuannya. Ia semata-mata ingin mempertahankan citra dan menegakkan etika di tubuh NU  karena SDSB adalah judi.


Agar kasus tersebut  tidak merebak ke mana-mana dan memancing salah faham Ketua Tanfidziyah PBNU KH Abdurrahman Wahid -Ghafar Rahman adalah kader Gus Dur- keputusan tersebut  segera disampaikan ke Gus Dur yang baru saja tiba dari luar negeri di Bandara Cengkareng. Di antara orang yang diutus menemui Gus Dur adalah  Arifin Junaidi. Ternyata Gus Dur  menerima keputusan itu. “Kalau keadaanya begitu, dan rapat Syuriah sudah memutuskan begitu, saya menerima,” kata Gus Dur.  Ia juga mengakui telah menandatangani surat permohonan yang dibuat oleh Ghaffar Rahman, tetapi tidak mengetahui isinya secara jelas.


Khittah 1926


KH Hasyim Latief pernah menggagas mengadakan seminar tentang bagaimana sikap NU. Ini terjadi setelah Ketua PPP HJ Naro bertingkah kembali memimpin PPP. NU adalah kekuatan yang melebur ke PPP. KH Hasyim Latief berencana mendatangan sejumlah pembicara, di antaranya KH Tolchah Hasan. Ia meminta KH Tolchah menyiapkan makalah. ”Saya menyiapkan satu orat-oretan makalah itu. Saya lebih cenderung agar NU memisahkan diri dari PPP,” kenang KH Tolchah.


Ternyata, seminar yang semula dijadwalkan berlangsung di Kantor PWNU Jatim Jl Darmo Surabaya batal. KH Tolchah menyerahkan makalahnya ke Gus Dur melalui tangan Fahmi Ja’far. Fahmi berujar, “Pak Tolchah sampeyan serius ini?” KH Tolchah menganggukkan kepala seraya berkata bahwa dirinya serius. KH Tolchah kemudian bertemu Gus Dur dan Fahmi, di kantor Fahmi di Kampus UI. Kisah ini terjadi tahun 1981.


Maka, dimulailah sebuah gerakan. Mereka membuat opini bahwa NU lebih baik keluar dari politik praktis ini. Pada waktu itu Gus Dur yang mereka harapkan dengan alasan ia yang masuk struktural PBNU. Gus Dur setuju. Mereka kemudian bertemu kiai-kiai sepuh yang kira-kira sudah tak tertarik lagi pada dua hal. Pertama, tidak tertarik kepemimpinan NU yang sudah 25 tahun tidak berganti. Kedua, tidak tertarik tingkah Naro yang waktu itu yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum PPP.


Kemudian KH As’ad, KH Masykur, KH Ali (Krapyak), KH Tolchah, Fahmi, KH Hasyim Latief, KH Muchith Muzadi, KH Mustofa Bisri, Said Budairi, Slamet Efendi Yusuf, Ikhwan Syah dan beberapa lainnya lagi mengadakan pertemuan di Hotel Hasta Senayan. Karena peserta pertemuan waktu itu berjumlah 25 maka dinamakan Majelis 25. Untuk kerja sehari-hari, mereka membentuk majelis 7 yang mensosialisasikan pikiran-pikiran itu.  Mereka adalah KH Hasyim Latief, Said Budairi, KH Tolchah Hasan, Ikhwan Syah, KH Muchith Muzadi, Gus Mus dan Slamet Efendi Yusuf.


Mulai saat itu virus Khittah NU masuk wilayah-wilayah. Ada dua isu utama yang disebarkan, yakni pertama kembali ke Khittah dan kedua tentang azas tunggal Pancasila. KH Hasyim Latief adalah inisiator, yaitu ikut kelompok muawwal ini. Waktu kepada  pemerintah, mereka meminta agar diizinkan mengadakan pertemuan Majelis Ulama untuk membicarakan masalah asas tunggal. Kepada internal NU, mereka bicara mengenai kembali ke Khittah. Jadi pada waktu merumuskan Khitthah ini, KH Hasyim Latief terlibat. KH Hasyim Latief menjadi bidan bagi kelahiran NU kembali ke Khittah 1926.


KH Hasyim Latief pernah menjadi figur penting ketika rumahnya menjadi tempat  pertemuan para kiai sepuh  untuk membicarakan tajamnya perbedaan pendapat KH As’ad Syamsul Arifin dan KH  Idham Chalid tentang sikap politik NU. Menurut KH Sahal Mahfudz, KH Hasyim Latief  banyak berperan dalam menyikapi soal itu agar kedua kubu tidak saling bermusuhan. Saat itu di tubuh NU terdapat dua kutub, yaitu Situbondo ( KH As’ad Syamsul Arifin) dan Cipete (KH Idham Chalid).


KH Idham Khalid  menghendaki NU tidak kembali ke Khittah 1926.  Sebuah garis perjuangan untuk kembali menjadi organisasi sosial keagamaan seperti saat NU berdiri 1926, dan bukan organisasi politik. Ia tidak rela NU kembali ke Khittah 1926. Maklum, ia masuk NU dari jalur politik, bukan dari NU jam’iyyah.  Sedangkan para kiai sepakat untuk kembali ke Khittah 1926.  Dan akhirnya  pertarungan itu dimenangkan oleh kubu Khittah.


Para kiai sepuh menghendaki NU kembali ke Khittah karena  selama NU menjadi partai politik banyak garapan NU yang besar dan sangat dibutuhkan warga NU justru terbengkalai. NU memang  mendapat posisi politik misalnya dalam bentuk jabatan-jabatan tertentu, tetapi justru karena itulah lahan NU tidak terurus. Persoalan lain,  sebelum NU menjadi partai, kontribusi warga terhadap NU sangat besar,  sehingga NU adalah organisasi yang cabang-cabangnya mampu mendirikan madrasah dan   mabarrot. 


Lailatul ijtima’ selalu ramai dan masyarakat memberikan sumbangan kepada NU. Tetapi,  ketika NU menjadi partai, kontribusi warga mandek. NU kehilangan potensinya karena pengurus NU hanya mengandalkan potongan honor kader-kader NU yang duduk di lembaga legislatif yang jumlahnya  kecil.  Dan, menurut KH Sahal Mahfudz, potensi itu sampai sekarang tetap hilang. Sudah banyak upaya untuk menggalinya, tetapi belum berhasil.




BAB KEENAM


Kiai BPR Plus Poliklinik


Sebutan murrabi patut diberikan kepada KH Hasyim Latief. Yang berpendapat demikian bukan orang sembarangan, Ketua Umum MUI, KH Sahal Mahfudz. Murrabi adalah pendidik. Dan, KH Hasyim Latief  telah membuktikan itu. Ia adalah sosok pendidik untuk banyak hal. Bukan sekadar pendidik dalam sekolah formal.


KH Hasyim Latief  ingin mendidik warga NU untuk bangkit dalam bidang perbankan. Itu ia tunjukkan dengan mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat). Ia juga  guru yang memberi contoh bagaimana berwirausaha. Tidak hanya itu, ia juga membuka poliklinik yang membidik kalangan bawah yang mayoritas juga warga NU. Tak lupa, ia menjadi kiblat bagaimana mengelola panti asuhan yatim piatu.


BPR


Era Orde Baru menjadi saksi bergairahnya perkembangan ekonomi. Investasi lokal dan transnasional terus membanjir di republik ini. Sayangnya roti lezat itu hanya dinikmati pengusaha besar dan orang-orang tertentu. Pribumi yang berjumlahnya 95% dari total penduduk, dan itu didominasi kaum muslim tetap dalam hidup pas-pasan. Inilah yang menjadikan keprihatinan para tokoh muslim, baik kalangan NU maupun Muhammadiyah.


Ketimpangan ekonomi ini tidak boleh terus berlangsung. Kaum intelektual muslim terus berfikir bagaimana mencari terobosan mendongkrak perokonomian umat Islam. Maka, Muhammadiyah menggandeng Lippo Group sedangkan NU menggandeng Bank Summa Dengan menggandeng kedua bank raksasa ini, mereka berharap mampu memperbaiki perekonomian umat Islam.


Ironisnya, selama ini yang bisa mengambil kredit besar adalah para pengusaha berdasi dan harus melalui prosedur rumit. Mayoritas umat Islam yang miskin itu, menginjakkan kaki ke bank saja takut. Apalagi jika mengambil kredit, mereka disyaratkan menyerahkan agunan yang justru memberatkannya. Karena itu, PBNU yang diwakili KH Abdulrahman Wahid menggandeng Bank Summa milik Edward Soerjadjaja mendirikan lembaga perbankan. Bank itu bebentuk BPR dan bernama BPR Nusumma. Kongsi ini mengharapkan mampu mendirikan 2.000 BPR seluruh Indonesia. Ini artinya warga nahdliyin bisa mendapatkan modal tanpa prosedur berbelit-belit.


Bertujuan mulia bisa mengangkat harkat warga NU, KH Hasyim Latief  merencanakan untuk mendirikan BPR. Tahun 1986, KH M Hasyim Latief, H Fatah, Jabah Sumartono, dan Sugiat Ak membahas rencana itu. Ini berinspirasikan berdirinya BPR Sumber Nilai Artha di Krian Sidoarjo. Tak tanggung-tanggung, tahun 1989 KH Hasyim Latief Cs meresmikan dua BPR sekaligus: BPR Artha Amanah di Mojosari dan BPR Purakusuma Arthadaya di Porong Sidoarjo.


Pada awalnya perjalanan, dua BPR itu mulus-mulus saja. Honorarium karyawan tak pernah telat. Dalam  4 tahun mampu menggaet 500 lebih nasabah, baik deposan atau kreditor. Deposan kebanyakan berasal dari kaum nahdiyin NU yang fanatik. Mereka minitipkan uangnya mulai Rp 125 juta hingga 150 juta. Belum lagi deposan kecil. Perkembangan dua BPR yang menggembirakan sempat membuat Direktur YPM Ir Amroh Musta’idah tersenyum sejenak. Putri kedua KH Hasim Latief yang juga Wakil Direktur BPR Purakusuma Arthadaya ini mulai kewalahan menerima nasabah terutama para kreditor. Cita-cita untuk mempermudah rakyat kecil mengambil kredit terwujud. Amroh sering bingung ketika banyak kreditor cair kreditnya memberi ia bonus. “Uang ini diterima atau tidak,” tanya Amroh dalam hati.


Ketimbang ragu, Amroh bertanya ke Abah (KH M Hasyim Latief). ”Abah, bagaimana hukumnya, kalau ada nasabah yang kreditnya cair lalu memberi bonus untuk saya.” Jawab Abah, “Kalau uang cair, tidak apa-­apa. Tapi dampak negatifnya akan menimpa dirimu. Jika kreditnyaa molor, kamu akan repot menagihnya.” Sejak saat itu, Amroh tidak berani menerima bonus dari kreditor.


Namun, tidak selamanya berbisnis itu mulus. Supervisor Bank Indonesia mencatat ternyata berdasarkan hasil audit, BPR tadi tidak memenuhi Rasio Kecukupan Modal. Ini terjadi karena banyak dana yang diserap oleh kreditor group. Maksudnya, atas nama seseorang bisa mengambil kredit di atas Rp 150  juta, tanpa anggunan lagi. Sebenarnya uang sebesar itu bisa disalurkan untuk 10 hingga 15 kreditor kecil.  Ternyata, pelaku kreditor grup ini adalah salah seorang pemegang saham. Yang menyedihkan, ia melakukannnya berkali-kali.


KH Hasyim Latief kecewa. Ternyata tujuan orang dekat di sekitarnya tidak murni lagi. Hebatnya, Abah Hasyim konsisten. Untuk menutupi Rasio Kecukupan Modal, ia menjaminkan sebidang tanah dan rumah miliknya di Sidorsemo Surabaya pada Bank Harapan Sentosa (BHS) agar kedua BPR itu eksis. Sayang, permasalahan berakumulasi. Belitannya cukup kuat sehingga pada tahun 1996 dua BPR itu gulung tikar. Tentu itu setelah bank membayar kewajibannya, mengembalikan uang deposan. KH Hasyim Latief menarik semua modalnya. Kemudian ia banting setir ke bisnis jasa angkutan.


Poliklinik Arrohmah


Ide mendirikan Poliklinik Arrohmah di Kletek Kecamatan Taman Sidoarjo bermuasal dari Faisol Latief (almarhum). Ketika itu ia berbincang-bincang dengan KH Hasyim Latief. Dalam perbincangan itu, Faisol menyatakan keinginannya mendirikan poliklinik. KH Hasyim Latief tidak segera menyetujui, tetapi bertanya ihwal kapasitas Faisol. “Saya sebagai Ta’mir Masjid Arrohmah,” kata Faisol. Kelak, poliklinik itu bernama Arrohmah. KH Hasyim Latief menyahut jawaban Faisol. “Aku setuju, sekalian membesarkan Mabarot NU dan Muslimat.”


Perbincangan tadi berlangsung tahun 1977. Namun, pembangunan poliklinik baru direalisasikan 1979. Perjalanan merintis poliklinik ternyata tidak mulus dan peralatan yang digunakan saat itu  masih sangat sederhana. H Muzakir yang kelak dipasrahi mengelola Poliklinik Arrohmah, mulai bergabung nonformal merintis poliklinik. Faisol ditunjuk sebagai ketua. Pertimbangannya, agar Poliklinik Arrohmah tetap tak berorientasi bisnis. Poliklinik ini berorientasi sosial melayani masyarakat desa. Pilihan orientasi inilah yang membuat pendanaan poliklinik seret.


Mei 1985, struktur kepengurusan poliklinik Arrohmah diresmikan. Rupanya, KH Hasyim Latief tidak menghendaki pengurus repot. H Muzakir menjadi saksi bagaimana KH Hasyim Latief merogoh kocek sendiri untuk membeli cat dan kapur agar poliklinik tampak bersih dan rapi. Tidak hanya itu, ia juga menggunakan uang sendiri untuk membeli perlengkapan poliklinik.


Usaha KH Hasyim Latief untuk tetap menghidupi poliklinik tidak berhenti di situ. Ketika poliklinik kerepotan dana, ia mengambil inisiatif membentuk donatur dari kalangan guru YPM. Tingginya semangat KH Hasyim Latief inilah yang membakar semangat pengurus untuk lebih serius mengelola poliklinik.  Sampai-sampai Dr Sugeng Sugianto, tenaga medis di poliklinik Arrohmah, selain meminta Dr Bernardi sebagai dokter jaga, juga cawe-cawe mencarikan dana. Ia meminta bantuan berupa genteng pada Pabrik Genteng Karangpilang. Bantuan berbentuk barang ini selanjutnya dijual dan uangnya untuk membeli obat.


Berkat kerja keras pengurus, sejumlah donatur kaya pun rela mengucurkan duitnya. Sebut saja misalnya H Makbul dan H Iksan yang menyumbangkan obat-obatan. Dokter yang bekerja di poliklinik juga rela mendapat gaji lebih rendah. Mereka yang umumnya mendapat gaji Rp 350 ribu per bulan, tidak berkeberatan menerima Rp 250 ribu per bulan.


Kerja keras ini membuahkan hasil. Tahun 1983 Poliklinik Arrohmah mampu mandiri. Segala kebutuhannya mampu dilengkapinya tanpa harus minta sumbangan kiri-kanan. Pengunjung poliklinik kian hari kian ramai. Terlebih, poliklinik ini berada di lokasi cukup strategis di pertigaan jalan menuju kecamatan Sukodono, Krian dan Taman. Ada beberapa orang yang berjasa membuat Poliklinik Arrohmah besar dan ramai pengunjung. Mereka, Achmad Suhardi, Yusuf Arief, dan Samsul.


Poliklinik Arrohmah selanjutnya memberi sumbangan besar pada masyarakat sekitarnya, terutama dalam memahami pentingnya kesehatan. Poliklinik ini juga kian mendekatkan masyarakat kepada kegiatan Jam’iyah NU. Ambil contoh pengajian Ahad Kliwon yang dimotori H Abdy Manab Cs. Embrio jamaah pengajian ini terbentuk di Poliklinik Arrohmah. Hanya satu kendala yang tersisa, izin operasional hingga kini belum keluar. Tahun 1994 Surat Keputusan beroperasinya Poliklinik Arrohmah telah habis. Masa tugas H Muzakir Cs pun selesai. Pengelolaan poliklinik diserahkan ke Majelis Wakil Cabang NU Taman.


Panti Asuhan


Adalah Kepala Desa Sarirogo H Abdullah yang memendam gagasan mulia mendirikan panti asuhan. Ketika keinginan ini ia sampaikan ke para ulama, mereka menyambutnya dengan gembira. Sayang, ketika ide ini dilontarkan ke tokoh masyarakat lain, kurang mendapat respon.


Ia pun beralih mengajukan usul mendirikan masjid di lokasi strategis pinggir jalan desa. Terhadap usulan ini, sebagian besar warga Sarirogo  rupanya malah setuju. H Abdullah tak menyia-siakan peluang ini. Ia mengundang 104 warga pemilik tanah gogolan (sawah garapan milik warga) untuk menyumbangkan sedikit tanahnya demi berdirinya masjid. Rupanya warga pemilik tanah gogolan menyambut gembira dengan rela mawakafkan sebagian tanah mereka. Selanjutnya, sekitar 1989, pembangunan tempat ibadah yang mereka beri nama Masjid Raya Nurul Huda dimulai. H Abdullah menyumbang proses pengerjaan dan konstruksi bangunan.


Malang, harapan mulia itu tersandung persoalan. Pembangunan masjid macet justru saat baru menyelesaikan fondasi. Mangkrak berlanjut hingga waktu yang tidak tanggung-tanggung, 8 tahun. Menurut H Abdullah, ini disebabkan beberapa hal. Pertama, sebagian masyarakat berprasangka buruk bahwa ongkos pengerjaan dan konstruksi yang dikeluarkan adalah bagian dari akal-akalan bisnis H Abdullah. Kedua, masalah makin lebar karena sebagian masyarakat tidak menyetujui dalam satu desa berdiri dua masjid. Ketiga, masa jabatan H Abdullah sebagai kepala desa hampir habis sehingga ia tidak memiliki kekuatan lagi memobilisasi warganya.


Selanjutnya, karena memiliki waktu longgar, H Abdullah bersama karibnya, H Mahfud mengaji pada KH Imron Hamzah (almarhum) selama 4 tahun. Nyantri H Abdullah tidak sia-sia. Niat ia untuk beramal makin kuat. Ia mewakafkan tanah seluas sekitar 3 ribu meter persegi miliknya. Tanah ini berada persis di utara lokasi pembangunan masjid yang mangkrak tadi.  H Abdullah ingin membuktikan kepada masyarakat ia benar-benar ikhlas untuk beramal. Kepercayaan warga Sarirogo terhadap H Abdullah tumbuh.


Wakaf tanah seluas itu diminta oleh Yayasan Hasyim Asy’ari yang dipimpin Dr H Achmad Muhammad. Atas permintaan masyarakat, tahun 1991 berdiri Madrasah Tsanawiyah YPM 2 Sarirogo-Sidoarjo. Permintaan masyarakat ini bukan tanpa sebab. YPM memiliki track record cemerlang dalam mengelola sekolah.


Gayung bersambut. Gagasan H Abdullah untuk mendirikan panti asuhan sampai ke telinga KH Hasjim Latief. Beliau melihat di sana masih ada lahan kosong. Sementara, di sekitar lokasi tanah wakaf H Abdullah tadi masih banyak ditemukan warga masyarakat yang tidak mampu, terutama mereka yang bernasib kurang beruntung karena menjadi yatim-piatu. Karena itu, KH Hasyim Latief menyarankan berdirinya panti asuhan untuk menyantuni mereka. Maka, pada 25 Maret 1995, H. Abdullah bersama H Bambang, H Mahfud Sidik dan Mochammad Kodjin merintis berdirinya pendirian panti asuhan. Mereka memberi nama  Panti  Asuhan Mabarot YPM.


Seiring berjalannya waktu, tahun 1996 berdiri SMK YPM 7 Sarirogo di komplek itu juga. Perkembangan pendidikan di sana makin bagus. Karena itu, pada 2001 YPM berbesar hati menyuntikkan dana sebesar Rp 10 juta. Ini sebagai signyal dilanjutkannya pembangunan Masjid Raya Nurul Huda yang lama tidur itu. Kini, semua orang bisa menyaksikan kemegahan masjid itu.


Tahun 2005, di sana sedang dibangun Madrasah Ibtida’iyah. Panti asuhan berpenghuni 49 santri itu segera bisa menikmati perpustakaan lengkap. Segudang prestasi pernah diraih Panti Asuhan Mabarot YPM. Misalnya, lembaga ini mampu menguliahkan anak asuhnya hingga ke jenjang S1. Tidak hanya itu, Panti Asuhan Mabarot YPM menjadi panti asuhan percontohan di Kabupaten Sidoarjo, dalam kategori pembinaan, kelengkapan sarana dan prasarana. H Abdullah yang pada 2005 menginjak usia 63 tahun, masih memendam satu cita-cita yang diwarisinya dari KH Hasyim Latief. Yaitu, mengelola panti asuhan menggunakan model pondok pesantren.




 Bab Sembilan


Gemilang YPM Memancarkan Dakwah Islam


Oktober 1962. Sukarno mendapat perintah penting KH Hasyim Latief, sosok yang ia  kenal melalui Ketua Majelis Wakil Cabang NU Taman, Syukur Ba’i. Perintah itu mencari lahan, membeli kayu jati gelondongan dan memanggil tukang kayu. Kala itu, KH Hasyim Latief sedang merintis untuk mendirikan sekolah di Kecamatan Taman Sidoarjo.


Sukarno, yang kelak menjadi sekretaris KH Hasyim Latief, menjalankan perintah dengan baik. Mula-mula yang ia mendatangkan kayu jati gelondongan dan tukang kayu. Agar tak banyak yang terbuang, KH Hasyim Latief memerintahkan tukang kayu mengerjakan bangku dan kursi panjang (dingklik) tanpa membuang kulit kayu.


Sebagai lokasi, dipilih Desa Wonocolo Kecamatan Sepanjang. Saat itu, Sepanjang masuk Kawedanan Taman. Di sanalah kemudian berdiri Taman Kanak-kanak Muslimat. Ajang bermain sembari belajar usia pra sekolah  anak-anak warga Wonocolo dan sekitarnya. Sukarno menceritakan, KH Hasyim Latief sendiri yang aktif mencari murid. Saat itu, panitia sedang sibuk-sibuknya merampungkan pembangunan gedung sekolah. Sedang Sukarno mendapat peran mencari murid di wilayah Kecamatan Waru.


Inilah sekilas ilustrasi kerja keras para perintis berdirinya Yayayasan Pendidikan Ma’arif  (YPM) Taman Sidoarjo. Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial ini berdiri atas penugasan Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Cabang Sidoarjo Kiai  Nur Yahya. Penanggalan mencatat, tonggak penting kelahiran YPM ini terjadi pada 10 September 1961.


Tugas ini dipercayakan KH Hasyim Latief dan sejumlah para sesepuh Sepanjang lainnya. Mereka mendapatkan amanat mendirikan sebuah madrasah atau sekolah lanjutan di wilayah Kawedanan Taman. Sebab, hingga saat itu Lembaga Pendidikan Ma’arif NU belum pernah sukses mendirikan sekolah lanjutan di Kawedanan Taman dan Krian. Belum ada sejarah di sana sekolah Ma’arif NU mampu bertahan lebih dari tiga tahun. Tentu, itu pekerjaan berat. Tapi, sebagai orang yang mendapatkan kepercayaan, mereka penuh bertanggungjawab memikulnya.


Menurut KH Sholeh Qosim, yang merencanakan, mempersiapkan dari administrasi, dana, lokasi dan semuanya adalah KH Hasyim Latief sendiri. “Saya hanya membantu. Jadi otak berdirinya YPM adalah Pak Hasyim Latief. Modal awal pendirian sekolah dari saku Pak Hasyim Latief dengan menjual truk dan rumah”.


KH Hasyim Latief dan para sesepuh bekerja keras mempersiapkan berdirinya sekolah lanjutan di Desa Wonocolo Kecamatan Taman. Tahun 1963, mereka mendirikan Taman Kanak-kanak yang waktu itu di seluruh Kabupaten Si­doarjo berjumlah kurang dari sepuluh. TK itu berjalan abadi hingga kini dengan identitas TK Muslimat I berlokasi di Wonocolo Gang VI Sepanjang.


Pada 15 Maret 1964, dibuka Madrasah Tsanawiyah pertama di wilayah Kawedanan Taman dan Krian. Madrasah ini bertempat di komplek Masjid Wonocolo Sepanjang (sekarang Masjid Riyadussholihin). Mereka memberi nama Madrasah Menengah Pertama ( MMP ) yang juga dikenal sebagai Madrasah Muallimin dan Muallimat. Bersamaan itu berdiri sebuah yayasan yang mengurus kedua sekolah tersebut dengan nama Yayasan Kesejahteraan Madrasah. Yayasan ini tercatat di akta notaris Gusti Djohan nomor 91 tahun 1964 tanggal 17 September 1964.


Nama Yayasan Kesejahteraan Madrasah kemudian berubah menjadi Yayasan Pendidikan Ma’arif ( YPM ) pada Septem­ber 1965. Selanjutnya, Januari 1994 nama yayasan berubah lagi menjadi Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif dengan tetap menggunakan singkatan YPM. Perubahan nama perlu dilakukan karena yayasan juga telah mendirikan Panti Asuhan Yatim Piatu Mabarrot YPM di desa Sariro­go, Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo. YPM juga mendirikan panti asuhan di Bringinbendo.


Tahun 1967, YPM mendirikan MMA (Madrsah Menengah Atas) YPM dan SMP NU yang kemudian berubah menjadi SMP YPM 1 yang berstatus disamakan. Tahun 1968, mendirikan SD Ma’arif, yang kini berstatus disama­kan. Beriktunya, tahun 1970, mendirikan SMA Wachid Hasyim 2, yang kini juga berstatus disamakan.


YPM terus mengembangkan sayapnya. Tahun 1975, mendirikan SMP YPM  Panjunan, Kecamatan Sukodono. Tahun 1980, mendirikan STM YPM. Selanjutnya, tahun 1986 mendirikan SMP YPM 3 Kramatjegu (sekarang SMP YPM 3 Bringinbendo), SMP YPM 4 Bohar dan menerima penyerahan sekolah dari LP Ma’arif Gresik. Ini adalah sebuah SMP di Driyorejo, Kabupaten Gresik yang kemudian menjadi SMP YPM 5 Tanjung dan kini menjadi SMP YPM 5 Sumput Driyorejo.


Sekolah di bawah naungan YPM terus beranak pinak. Tahun 1987 mendirikan SMA YPM 2 Panjunan, SMKK YPM Jurusan Tata Boga dan Tata Busana yang berstatus disamakan. Dua tahun kemudian, 1989, mendapat penyerahan sebuah Madrasah Tsanawiyah yang hampir tutup di Wonoayu. Kini menjadi MTs YPM 1 dan berkem­bang pesat dengan jumlah kelas besar.


Amanat di pundak YPM untuk memajukan pendidikan tak berhenti. Yayasan ini terus mendirikan sejumlah sekolah. Tahun 1991, YPM mendirikan SMEA YPM 1, yang berstatus disamakan. Di tahun yang sama, YPM mendapatkan pelimpahan SMA Tunas Bangsa Sumobito Jombang yang kini menjadi SMU YPM 3 Sumobito. Setahun kemudian, 1992, YPM kembali menerima pelimpahan sebuah SMP berbantuan dari Yayasan Tarik, Sidoarjo. Kini sekolah itu menjadi SMP YPM 6 Tarik.


Tahun 1993 YPM mendirikan tiga sekolah, yakni STM YPM 2 Bringinbendo, SMEA YPM 2 Panjunan dan MTs YPM 2 Sarirogo. Karena kadung cemerlang mengelola sekolah yang nyaris gulung tikar, YPM kembali menerima pelimpahan sebuah MTs di Curahmalang, Jombang dari yayasan Darussalam. Di bawah pengelolaan YPM, sekolah itu menjadi MTs YPM 4 Curahmalang Jombang.


Setahun kemudian, 1974, YPM mendirikan dua sekolah, SMP YPM 7 Sarirogo dan MTs YPM 5 Gedangan, Jombang. Di tahun yang sama, YPM kembali dipercaya mendapat pelimpahan mengelola sekolah dua sekolah. Pertama, SMP Mujib Ichsan Blitar. Kedua, MTs Hasyim Al Hadi Kedungse­kar, Benjeng Gresik yang kini menjadi MTs YPM 6.


YPM belum berhenti untuk mendirikan sekolah. Tahun 1995 empat sekolah baru: STM YPM 3 Bojonegoro, STM YPM 4 Tarik, STM YPM 5 Sarirogo dan SLB YPM Pacet Mojokerto. Masih di tahun yang sama, YPM mendapat penyerahan STM dan SMEA yang sudah hampir tutup dari Yayasan Putra Bhakti, Krembung dan kini menjadi STM YPM 6 dan SMEA YPM 3.


Tahun 1996, tiga sekolah lagi berdiri menggunakan bendera YPM, yaitu SMEA YPM 4 Wonoayu,  Madrasah Aliyah YPM Driyorejo dan pelimpahan SMU 45 dari Yayasan Surban Pacet. Tahun 1997, YPM juga memberikan bantuan operasional 7 madrasah ibtidaiyah di luar YPM. YPM juga membuka Politeknik yang memiliki 4 jurusan : Teknik Mesin, Teknik Elektro, Administrasi Niaga dan Teknik Kom­puter.


Hingga 2005, sekitar 34 sekolah berdiri dalam nafas Yayasan Pendidikan dan Sosial  Ma’arif Sepanjang Sidoarjo.  Mulai dari Kelompok Bermain (Play Group) hingga Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi yang membawa panji YPM adalah Sekolah Tinggi (ST) yang meliputi Teknik (STT), Ilmu Ekonomi (STIE), Ilmu Hukum (STIH) serta Akademi Analis Kesehatan (AAK). Murid yang dimiliki berjumlah belasan ribu. Jumlah tenaga pengajar sekitar 500 orang.


Pada umumnya sekolah dalam naungan YPM memiliki gedung sendiri dengan fasilitas memadai. YPM juga terus melengkapi berbagai fasilitas penunjang pendidikan. Misalnya laboratorium, bengkel dan perlengkapan praktik kejuruan lain. Kepercayaan masyarakat terhadap YPM kian besar dan meluas. Ini ditandai makin bertambahnya pendaftar siswa baru setiap tahunnya. Mereka sebagian besar berasal dari Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Mojokerto dan Jombang.


Siswa Non-Musim


YPM lahir berbidan kiai dan sesepuh NU. Ini bukan berarti yang bersekolah harus berasal dari kalangan NU atau Islam. Siapapun boleh menimba ilmu di lingkungan YPM. SMA Wachid Hasyim 2 Sepanjang membuktikannya. Tahun 1990-an sekolah ini menerima siswa beragama Kristen Protestan bernama Sariden Samosir.


Meski bukan agama Islam, pihak sekolah tidak mewajibkan ia mengikuti pelajaran agama Islam. Hanya saja, ia harus mengikuti semua pelajaran sesuai kurikulum YPM. Dengan kesadaran sendiri Sariden masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Karena ia belum berkhitan,  selang beberapa hari ia berkhitan. Sejumlah teman sesama siswa YPM yang mengantarkannya. Tak ketinggalan, KH Hasjim Latief  memberi bingkisan sarung dan kopiah disertai ucapan selamat kepada Sariden.


YPM juga pernah dua siswa beragama Katolik. Seorang di antaranya perempuan keturunan Cina. Kepadanya, tidak ada kewajiban untuk mengikuti pelajaran agama Islam. Namun, karena sekolah mewajibkan siswa perempuan mengenakan jilbab atau kerudung maka siswa mematuhinya.


Syiar Islam


YPM juga konsisten menyebarkan syiar Islam faham ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja). Karena itulah YPM mendirikan sekolah-sekolah di luar wilayah Sepanjang. Termasuk di antaranya SMP Dipnegoro Telukdalam Samarinda Kalimantan Timur dan lain sebagainya. Pemberdirian sekolah-sekolah itu bukan didasarkan pada untung rugi. Tapi, berangkat dari atas semangat dakwah tadi.


Selain itu, jika ada sekolah YPM mengalami anggara defisit, maka YPM akan mengucurkan subsidinya hingga sekolah itu mandiri. Walau sesungguhnya, YPM menerapkan manajemen terbatas. Artinya sekolah berhak mengelola keuangan sendiri. Hanya saja, pungutan SPP, besarnya HR guru dan pungutan yang lain ditetapkan YPM. Namun demikian KH Hasyim Latief tidak kurang akal untuk menutupi defisit anggaran suatu sekolah. Ia mendirikan sekolah lain di tempat itu terutama yang memiliki peminat tinggi.


Sebagai contoh Madrasah Tsanawiyah/SMP YPM 7 Sarirogo mengalami defisit. Di sana kemudian didirikan SMK YPM 8 (STM) yang ternyata menampung cukup banyak siswa sehingga posisi keuangannya menjadi surplus. Begitu pula pada awal penyerahan Madrasah Tsanawiyah Bojonegoro kepada YPM yang murid untuk semua tingkatan kelas kurang dari 25 orang. YPM memberi subsidi lumayan besar agar proses belajar mengajar di sekolah tersebut tetap berjalan.


Berdasarkan manajemen yang diterapkan YPM lambat laun perkembangan siswa Madrasah Tsanawiyah Bojonegoro membaik. Agar YPM Sepanjang tidak memberi subsidi terlalu berat, KH Hasyim Latief mendirikan SMK YPM 6 (STM). Perkembangan sekolah ini pesat sehingga keuangannya surplus. Kekurangan biaya operasional Madrasah Tsanawiyah bisa ditutupi oleh keuangan SMK YPM 6 Bojonegoro.


Para pendiri dan pengurus YPM berkesimpulan bahwa pendidikan adalah sarana dakwah paling mudah untuk menyebarkan Islam khususnya faham ahlus sunnah waljama’ah. Namun demikian beban penyebaran dakwah ini bukanlah monopoli YPM saja, melainkan tugas bersama khususnya warga Nahdhiyin.


Pengajaran Al-Quran


YPM merupakan satu dari sekian banyak yayasan bergerak di bidang pendidikan umum dan sosial yang didirikan oleh umat Islam. Lembaga ini bukan pesantren yang mengkaji kitab-kitab kuning. Siswa yang masuk semua tingkatan pendidikan di YPM pada umumnya dari kalangan masyarakat biasa. Mereka belum tentu mengerti betul ajaran Islam. Tidak banyak pula yang bisa membaca Al-Qur’an. Tak jarang wali murid atau orang tua siswa tidak melaksanakan shalat.


Karenanya, anak mereka yang bersekolah YPM belum bisa membaca Al-Qur’an. Inilah kenyataan yang membuat KH Hasyim Latief trenyuh. Muncullah dorongan untuk menjadikan mereka mampu membaca Al Qur’an. Oleh karena kurikulum di lingkungan YPM mengajarkan Al-Qur’an lepas dari pengajaran agama Islam.


Beliau menyampaikan ke seluruh Kepala Sekolah bahwa siswa yang belajar di YPM, begitu lulus harus bisa membaca Al-Qur’an. Kemampuan membaca Al-Quran para siswa yang masuk YPM beragam. Ada sebagian siswa yang sama sekali belum membaca Al-Qur’an. Ada yang bisa sedikit-sedikit, dan sebagian lain telah mampu secara lancar membaca kitab suci.


Untuk memecahkan masalah ini, KH Hasyim Latief menyarankan setiap sekolah mendata siswa yang memang belum bisa sama sekali membaca Al-Qur’an untuk dipisahkan dengan siswa yang sudah mampu membaca Al-Qur’an. Mereka yang belum bisa sama sekali membaca Al-Qur’an mendapatkan pelajaran membacara Al-Qur’an metode Iqro’. Sedangkan, siswa yang sudah bisa membaca diajar oleh guru Al-Qur’an.


Dengan demikian pelajaran Al-Qur’an dalam satu kelas harus di ajar oleh dua orang guru. Berarti bertambahnya guru iqro’ ini menambah beban biaya sekolah. Namun hal ini tidak menjadi merisaukan KH Hasyim Latief.  Bagi beliau, yang penting setamat dari YPM mereka mampu bisa membaca Al-Qur’an. KH Hasyim Latief menegaskan, prinsip YPM tidak mencari keuntungan dari pendidikan. Tetapi, YPM berkewajiban mencetak dan mengkader manusia yang berakhlaqul karimah seperti yang di ajarkan Al-Qur’an.


Kemampuan membaca Al-Quran bukan saja untuk siswa. Seluruh guru YPM juga harus bisa membaca Al-Qur’an. Ini bukan berarti guru yang belum mampu membaca Al-Qur’an tidak boleh mengajar. Namun, sebelum mereka diterima sebagai guru terlebih dahulu dites oleh guru Al-Qur’an. Ini untuk menentukan kadar kemampuannya membaca Al-Qur’an.


Guru yang belum mampu membaca Al-Qur’an akan mendapat bimbingan dari guru Al-Qur’an di unit sekolah. Dalam setahun, mereka ini diharapkan telah mampu membaca Al-Quran. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh keberhasilan pengajaran membaca Al-Quran pada maupun guru, pada akhir tahun diadakan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan sistem silang antara guru yang mengajar di satu sekolah dengan guru pengajar di sekolah lain. Misalnya, guru di SMA Wachid Hasyim 2 akan mengevaluasi siswa di SMK YPM 1 dan seterusnya. Oleh karena itu peran dari Kepala Biro Agama sangat penting untuk menentukan keberhasilan pengajaran Al-Quran seperti yang diharapkan oleh KH Hasyim Latief.


Laboratorium Da’i


YPM komplek Ngelom memiliki lima sekolah: SMP YPM 1, SMK YPM 1 (STM 1), SMK YPM 2 (SMKK) dan SMK YPM 3 (SMEA 1). Mayoritas siswa SMK YPM 2 adalah putri. Ini juga seperti komposisi siswa SMK YPM 3 yang juga didominasi siswa puteri. Sebaliknya siswa SMK YPM 1 didominasi putera. Siswa puteri di sekolah ini bisa dihitung dengan jari. Itu pun hanya ada di jurusan informatika.


SMA Wachid Hasyim 2 memiliki perbandingan jumlah siswa putera dan puteri seimbang. Siswa yang bersekolah di SMA Wachid Hasyim 2 terbagi menjadi tiga golongan kelas. Pertama kelas biasa yaitu kelas dengan kurikulum standar ditambah pelajaran agama sebanyak 6 jam pelajaran.


Kedua kelas khusus (agama). Kurikulumnya persis kurikulum Madrasah Aliyah. Ini berarti ada tambahan pelajaran agama 16 jam.Berarti, siswa yang sekolah di kelas khusus agama harus masuk pagi dan siang. Hal ini terjadi karena banyaknya jam pelajaran yang mereka terima. Ketiga kelas khusus (umum). Di kelas ini, kurikulum yang diberikan sama dengan kelas biasa, plus pelajaran umum pada siang hari. Kelas tambahan siang hari SMA Wachid Hasyim 2 ini bekerja sama dengan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) Surabaya Sugema College (SSC).


Tambahan pelajaran agama sebanyak 6 jam ini merupakan standar yang harus diterapkan di semua sekolah di lingkungan YPM Sepanjang. Setiap hari siswa yang berada di kompleks Ngelom harus melakukan shalat berjama’ah. Siswa yang masuk sekolah pagi harus berjama’ah shalat dhuhur di Masjid Nurul Islam dan di Graha Anugrah Gusti.


Sedangkan siswa yang masuk siang harus jama’ah shalat Ashar dan Maghrib. Jama’ah shalat Maghrib menjadi keharusan karena waktu shalat Maghrib amat pendek. Ada kekhawatiran jika tidak berjamaah Maghrib, mereka mampu mengejar waktu shalat Maghrib di rumah karena waktunya habis di perjalanan. Jika siswa YPM tidak melaksanakan shalat maka secara tidak langsung seluruh pengurus YPM, termasuk KH. Hasyim Latief ikut bertanggung jawab menanggung dosanya.


Sesungguhnya, KH Hasyim Latief bercita-cita besar mempunyai pondok pesantren untuk mendidik dan mencetak da’i yang nantinya bisa berdakwah di luar Jawa. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, YPM membangun asrama siswa yang berfungsi untuk mendidik siswa di bidang dakwah. Asrama ini berdiri di kampus Ngelom. Pondok pesantren ini bernama Nurul Islam, sama dengan nama masjid di dalam kampus Ngelom.


Ternyata siswa yang berminat mondok atau tidur di asrama kecil. Namun, kegagalan pondok pesantren itu tidak memupuskan niat suci KH Hasyim Latief untuk mencetak da’i. Beliau memerintahkan guru-guru agama terutama di SMA Wachid Hasyim 2 Sepanjang dan SMK YPM 1 Sepanjang mencari dan mendidik siswa kelas II dan III yang dianggap mampu melakukan dakwah.


Mereka dididik metode berdakwah dan bagaimana menyampaikan pesan dan menghadapi masyarakat. Sebelum berdakwah di dalam masyarakat umum, mereka diuji berkhotbah Jum’at di Masjid Nurul Islam. Di sini, mayoritas jamaahnya adalah warga YPM, baik siswa, guru maupun karyawan. Ini untuk memberinya bekal pengalaman menjadi khotib. Jika evaluasi oleh guru agama menunjukkan siswa tersebut menunjukkan kemampuannya, mereka mendapat kesempatan untuk berkhotbah di luar YPM. Untuk itu YPM menjalin komunikasi dengan ta’mir masjid di sekitar Sepanjang.


Berikutnya, mereka harus mampu memberikan mauidhotul khasanah di perkumpulan atau jam’iyyah anak-anak tingkat desa, dan seterusnya. Meski cita-cita KH Hasjim Latief untuk mendirikan pondok pesantren gagal, namum tetap berhasil mencetak dan mendidik siswa menjadi da’i. Semoga Allah SWT menerima amal beliau karena telah mencetak banyak da’i untuk menyebarkan agama Islam.


Bahasa Arab dan Inggris


KH Hasyim Latief  mengharuskan kepada guru agama menggunakan komunikasi Bahasa Arab di antara mereka. Ini bersamaan dengan keharusan menggunakan bahasa Inggris bagi selain guru agama yang beliau canangkan pada tahun pelajaran 1997-1998. Beliau mengadakan kursus Bahasa Arab selama 6 bulan bagi guru agama. Namun program ini tidak kunjung terwujud karena banyaknya kendala.


Beliau sangat konsen terhadap ilmu-ilmu keislaman. Misalnya ketika Ilmu Falaq menjadi asing bagi para guru agama, padahal ilmu itu sangat besar manfaatnya bagi umat, maka beliau mengadakan kursus ilmu falaq bagi para guru agama. Nara sumbernya seorang ahli falaq dari PWNU Jawa Timur Ustadz Drs Abdus Salam pada 4 dan 6 Januari 1997.


Beliau menginstruksikan agar disusun buku agama untuk program khusus dan dan buku agama untuk program umum. Kitab musthalah hadits , kitab hadits akhlaq dan kitab hadits ahkam berhasil disusun. Sedang buku agama untuk jenjang SMP dan SMA dibuat oleh sebuah tim yang walaupun tanpa anggaran mereka berhasil menyelesaikan buku agama tingkat SMP dari kelas satu hingga kelas tiga.


Alangkan terkejutnya anggota tim ketika hasil mereka tidak diterima. Hal ini bisa dimaklumi, karena yang beliau inginkan sebuah buku untuk kelas satu hingga kelas tiga yang praktis dan dapat dipakai sebagai pegangan selanjutnya. Hanya hal ini tidak diungkapkan sebelumnya.


Keinginan ini dilanjutkan oleh Kepala Bidang Keagamaan dan Sosial dengan menginstruksikan kepada Biro Pena untuk membentuk tim penyusunan sebuah buku agama yang praktis dan lengkap. Sehingga dapat digunakan sebagai pegangan usai menempuh pendidikan. Tim telah dibentuk dan penulisan selesai 40%, namun karena sejak awal memang belum ada anggaran, buku tersebut belum dapat terselesaikan.


KH Hasyim Latief menyadari macam-macam bidang studi agama dan banyaknya sekolah menyulitkan koordinasi dan pembinaan. Belum lagi pembinaan keagamaan guru selain guru agama. Oleh karena itu beliau menginstruksikan pengangkatan koordinator guru agama. Setelah berjalan beberapa tahun keberadaan koordinator guru agama ini dirasakan berbeda-beda kontribusinya, sehingga dengan pertimbangan penghematan maka koordinator guru agama dihapuskan.


Ia juga merencanakan berdirinya Pesantren Tinggi Ilmu Al Qur’an dengan melakukan berbagai langkah. Mengadakan sulaturrahmi studi banding ke Pondok Pesantren Nurul Jadid pada  30 Nopember 1996 dan ke Tebu Ireng 23 Desember 1996. Membentuk Tim Persiapan Pendirian Taman Pendidikan Ilmu Al Qur’an yang diketuai Dr Ahmad Zahro’. Tim ini telah bekerja dengan mengadakan studi banding ke Ma’hadul ‘Ali di Asembagus dan menghasilkan sebuah proposal. Namun usaha kearah ini belum berlanjut hingga kini.


Belaiu juga sangat memperhatikan pendidikan Al Qur’an di TPQ-TPQ yang ada di sekitar Kecamatan Taman. Beliau menginstruksikan diadakan acara tasyakuran bagi anak-anak usia sekolah dasar yang sudah tamat belajar. Caranya mengundang TPQ-TPQ untuk mengirim dua anak santrinya. Selanjutnya mereka membaca bergantian sekadarnya.


Kemudian memberinya hadiah Al Qur’an dan sekedar uang jajan dan dilanjutkan kirab naik dokar hias. Selain untuk menghibur, juga memotivasi anak-anak lain agar rajin belajar Al Qur’an. Digelar juga geerak jalan jantung sehat memperingati 1 Muharram.





KESAKSIAN-KESAKSIAN PARA TOKOH

KESAKSIAN KH Sholeh Qosim


Pengasuh Pondok Pesantren Ngelom Sepanjang Sidoarjo


Saya membantu mendirikan YPM katanya digawe “tuwek-tuwekan” (orangtua). Saya diamanati untuk mengajar fiqih di YPM pertama kali. Sedang Al Maghfulloh KH Imron Hamzah mengajar hadits. Yang pertama kali mempunyai ide mendirikan sekolah adalah Pak Hasyim Latief.


Yang merencanakan, mempersiapkan dari administrasi, dana, lokasi dan semuanya adalah Pak Hasyim sendiri. Saya hanya membantu. Jadi otak berdirinya YPM adalah Pak Hasyim Latief. Modal awal pendirian sekolah dari saku Pak Hasyim Latief dengan menjual truk dan rumah.


Pak Hasjim Latief ingin “minterno” (membuat pintar) arek Sepanjang. Saat itu anak Sepanjang jika ingin bersekolah harus keSurabaya. Satu-satunya kendaraan umum adalah kereta api. Jika terlambat maka tidak ada kendaraan lain dan kalau mau harus ditempuh dengan jalan kaki. Pak Hasjim dalam mendirikan sekolah tidak berjalan sesuka hati. Beliau sering minta pertimbangan dan nasihat kepada para sesepuh yang ada di sekitar Sepanjang, di antaranya kepada Habib Umar.


Pak Hasyim sangat cinta ilmu. Sebagai rasa ta’dhim dan terima kasih kepada Pak Hasyim, maka YPM harus dipimpin oleh putra Pak Hasyim. Artinya, yang menjadi orang pertama di YPM adalah putra Pak Hasyim dan orang lain sebagai pendukung.




KESAKSIAN KH Dr Tolkhah Hasan


Mantan Menteri Agama


Ternyata membuat Pak Hasyim baru itu sulit lho. Masalahnya apa, konsistennya itu lho yang sulit ditandingi. Dalam bahasa santrinya istiqomahnya. Mungkin ilmunya bisa saja dipelajari. Mungkin pinternya ngomong itu bisa dikaderkan. Tapi kalau  istiqomahnya, itu karakter. Karena itu bagaimana sekarang menyiapkan generasi baru yang punya karakter.


Ternyata sulit. Kita menyiapkan kader rata-rata 10 tahun. Itu hanya mampu menangani hal-hal yang sifatnya manajerial administratif. Tapi membentuk watak tidak bisa 10 tahun. Itu butuh  mulai awal, minal mahdi.  Sekarang kita kesulitan  mencari itu. Kepemimpinan-kepemimpinan yang kita miliki sekarang ini, justru yang sangat terasa kurang sekali pemimpin yang istiqomah itu.


Maraknya macam-macam konflik di lingkungan umat itu disebabkan  oleh pemimpin-pemimpin yang  tidak istiqomah. Umatnya bingung, dulu berkata begitu sekarang berkata begini. Metode istiqomah itu kok belum ketemu. Mari dicari  bareng-bareng. Metode istiqomah itu bagaimana, itu  karakter.


Padahal kata Nabi, kamu lebih bisa percaya kalau ada orang memberi tahu ada gunung pindah daripada kalau diberi tahu ada  tabiat yang pindah. Itu karakter. Tetapi mungkin itu bisa diadakan pembinaan. Buktinya militer itu, meskipun tidak bisa persis sama, tetapi karakter militer itu ada.


Adasebetulnya karakter dalam Islam itu yang  agak menemukan satu kesamaan. Itu karakter tasawuf. Orang-orang yang berada dalam dunia tasawuf mempunyai kesamaan-kesamaan yang agak dekat. Tentu tasawuf yang benar.


Dulu di PBNU itu mantannya yang pertama Pak Munasir, Kedua KH Muchith Muzadi, ketiga Pak Hasyim, keempat saya, kelima KH Ma’ruf Amin dan Pak Dawam. Itu orang-orang Tebuireng yang di PBNU waktu itu. Pak Munasir ketua angkatan pertama, terus Pak Muchith Muzadi, Pak Hasyim dan saya. Tapi meninggalnya kok tidak berurutan ya. Habis Pak Munasir tahu-tahu Pak Dawam. Habis Pak Dawan Pak Hasyim.


Tahun 60-an waktu itu kita masih ribut-ributnya membenahi Ma’arif. Waktu itu Pak Hasyim sudah melaporkan Ansor kepada Pak Hisbullah Huda, Pak Hasyim langsung menangani Ma’arif di Jawa Timur. Waktu itu Anshor mulai mencuat  lagi setelah  tahun 1945. Tahun 60 itu memang ada  aksi-aksi sepihak PKI yang mulai benturan dengan Ansor. Kita membentuk Banser di Blitar. Ketua Ansor Jawa Timur waktu itu Pak Huda.


Saya ikut kok waktu  mendirikan Banser bersama Sukri Ali dan Zaqi Ubaid (Pasuruan), tapi tidak kelihatan lagi. Mulai muncul lagi menghadapi aksi aksi PKI mulai tahun 1959. Habis Dekrit Presiden, persaingan itu begitu tajam. Mulai ada pemuda rakyat bersaing. Orang NU kalau tidak dimusuhi malah tidak bekerja. Carikan saja musuh yang banyak supaya bangun.


Pak Hasyim itu Ketua Anshor Jatim tahun 60-an.Adakonferensi  terus digantikan Pak Huda. Pak Hasyim  aktif di Ma’arif dan di partai.  Pak Hasyim luar biasa istiqomahnya. Dari periode satu ke lainnya  tidak pernah putus. Watak Pak Hasyim yang lain adalah gigih. Dan yang hebat, beliau tidak pernah berebut masalah jabatan. Tokoh-tokoh kita rata-rata tidak pernah berebut jabatan.


Tim sukses itu masuk di NU sejak Muktamar Kediri.  Mulai ada virus tim sukses masuk Muktamar NU. Di Cipasung, bukan tim sukses sesama NU tetapi pemerintah melawan NU. Abu Hasan, pesaing Gus Dur, orang pemerintah. Jadi NU sendiri tidak siap dengan tim sukses waktu itu. Money politics mulai Cipasung. Waktu itu Abu Hasan sudah mulai membagi uang.


Tetapi waktu itu belum banyak yang mau menerima uang Abu Hasan. Karena pada waktu itu barangkali hukumnya masih haram. Setelah Muktamar Kediri hukumnya berubah menjadi makruh. Setelah Muktamar Solo hukumnya jadi sunnat. Untuk selanjutnya, saya tidak tahu. Karena itu, istiqomah dan kegigihan Pak Hasyim menjadikan beliau disegani di NU. Kharismanya beliau di situ. Kharisma itu dibentuk dari pengabdian yang berjalan cukup panjang, didukung sikap konsisten.


Dulu, saat membesarkan YPM itu, saya bergantian “sambat” (minta tolong). Saya waktu mendirikan Unisma itu minta tolong Pak Hasyim untuk meminjamkan uang ke H Syukri Surabaya sebesar Rp 200 juta.


Soal Khittah, Pak Hasyim mau mengadakan seminar di wilayah NU. Ini setelah Ketua PPP HJ Naro bertingkah. Pak Hasyim menelepon saya. “Pak Tolchah sampeyan membuat oret-oret. Enaknya NU ini pisah ndak dari politik”, itu telepon Pak Hasyim. “Minggu depan kita bertemu diSurabaya.” Saya menyiapkan satu orat-oretan makalah itu. Saya lebih cenderung agar NU memisahkan diri dari PPP.


Terus seminar di Jalan Darmo tidak jadi. Makalah saya serahkan Gus Dur lewat Fahmi Ja’far. Fahmi bilang, “Pak Tolchah sampean serius ini?” Saya jawab serius. Saya kemudian bertemu Gus Dur dan Fahmi, di kantor Fahmi di UI tahun 1981.


Bagaimana kita memulai itu. Kita buat opini bahwa NU lebih baik keluar dari politik praktis ini. Pada waktu itu Gus Dur yang kita harapkan. Karena pada waktu itu yang masuk struktural PB hanya Gus Dur. Saya dengan Fahmi tidak jadi apa-apa. Gus Dur bagaimana, oke. Caranya bagaimana? Temui kiai-kiai tuwo (sepuh) yang kira-kira sudah tak tertarik lagi. Pertama, tidak tertarik kepemimpinan NU yang sudah 25 tahun tidak berganti. Kedua, tidak tertarikan tingkah Naro yang waktu itu yang dipilih.


Kemudian KH As’ad, KH Masykur, KH Ali (Krapyak), saya, Fahmi, termasuk termasuk Pak Hasyim Latief, Pak Muchith Muzadi, Gus Mus, Said Budairi, Slamet Efendi Yusuf, Ikhwan Syah dan beberapa yang lainnya lagi mengadakan pertemuan di Hotel Hasta di Senayan. Disanakita bicarakan. Karena pada waktu berjumlah 25 maka dinamakan majelis 25. Untuk kerja sehari-hari kita bentuk majelis 7 yang mensosialisasikan pikiran-pikiran itu.  Mereka adalah Pak Said Budairi, saya, Ikhwan Syah, Pak Hasyim Latief, Pak Muchith Muzadi, Gus Mus, Pak Slamet Efendi Yusuf.


Mulai saat itu wilayah-wilayah kita kirim virus NU Khittah. Jadi yang menjadi isu masalah kembali ke Khittah dan kedua mengenai asas tunggal. Pak Hasyim sebagai inisiator, yaitu ikut kelompok-kelompok muawwal ini. Jadi pada waktu kepada  pemerintah, kita minta supaya diizinkan mengadakan pertemuan Majelis Ulama untuk membicarakan masalah asas tunggal. Tetapi kepada teman-teman internal NU kita bicara mengenai kembali ke Khittah. Tahun 1983 kita mengadakan Munas Alim Ulama’ di Situbondo. Kemudian dilanjutkan dengan Muktamar.


Jadi pada waktu merumuskan khitthah ini Pak Hasyim terlibat. Kita-kita ini yang jadi bidannya.  Pak Hasyim lebih memilih berjuang di dunia pendidikan khususnya sekolah, bukan ma’had (pondok).  Sebab pada waktu itu kiai itu di samping punya ilmu juga punya satu integritas moral. Dan ada guyonan, bisa dipanggil kiai itu ada dua syarat yaitu punya pondok dan punya potongan. Orang-orang macam saya, Pak Hasyim itu tidak punya potongan.


Mendirikan lembaga pendidikan seperti YPM bukan masalah yang sederhana. Saya sendiri punya pengalaman dan terlibat di dalam mengembangkan pendidikan, betul-betul berat. Saya ditanya wartawan, Pak Tolchah mendirikan sekian banyak sekolah di beberapa tempat itu habis uang berapa? Waduh saya itu, juga tidak pernah menghitung. Saya tidak tahu berapa uang yang sudah terinvestasi. Karena dulu saya tidak pernah ngitung.


Yang jelas sumbernya dari Allah dan dari umat. Berapa jumlahnya saya tidak tahu. Kalau setiap sekolah kami anggap sekian saja, itu berarti sudah sekian puluh milyar. Saya membuka pondok pesantren teknologi di Riau bekerjasama dengan Pemda Riau. Dalam laporan panitia menghabiskan Rp 16 milyar. Mulai sekolah, asrama, kemudian workshop, laboratorium, dan masjid. Juga akan dibuka di Kaltim oleh Pak H Rusli ketua NU wilayah akan dibuka SD fullday di sana 4 lantai gedungnya habis Rp 6 milyar lengkap dengan laboratoriumnya.


Saya tidak tahu di YPM sudah berapa puluh milyar. Dan tidak semua orang punya kesanggupan untuk memobilisasi dana sekian itu. Itu butuh kepercayaan masyarakat. Mungkin sama-sama membangun, tapi antara Pak Hasyim yang ngomong sama orang lain yang ngomong beda. Itu saya rasakan sendiri di sekolah-sekolah kami ini apabila kepepet tidak punya uang pinjam ke bank.


Itu sederhana saja asal ada tanda tangan Pak Tolchah saja. Jadi akhirnya saya punya utang karena yang tanda tangan saya. Dulu waktu saya jadi rektor di Unisma kalau butuh uang Rp 200-300 juta langsung telepon BCA dan langsung disiapkan dan ditanya jam berapa dibutuhkan. Jadi  yang ditanya jam berapa bukan jumlah berapa dan langsung dikirim. Sekarang teman-teman kalau mau pinjam uang  semilyar saja sulit setengah mati. Memang membangun kepercayaan tidak gampang.


Lha Pak Hasyim itu dipercaya oleh masyarakat, dipercaya oleh beberapa lembaga. Sama-sama mengajukan mau mendirikan sekolahan. Orang bisa dipercaya masyarakat kalau ada keyakinan bagi mereka itu. Untuk memberikan kepercayaan yang begitu itu tidak bisa dengan tahunan itu. Itu harus diuji beberapa tahun, dan itu mahal. Hal yang begini jangan sampai rusak.


Saya hanya merasa betapa beratnya. Sebab melahirkan Pak Hasyim baru itu butuh waktu yang lama. Nanti semoga, biasanya tidak semuanya, dari sepuluh anak mungkin ada tiga yang tekun begitu. Yang lain barangkali lebih senang dagang sajalah,kanbanyak uangnya. Sekarang ada gangguan baru di tengah-tengah umat, barangkali ikut pilkada sajalah. Kalau orang begini-begini jangan ikut mengurus lembaga seperti YPM, sulit itu.


Saya selama 23 tahun mendirikan Unisma saya lepaskan semua pekerjaan saya. Pertanian saya, peternakan saya, perdagangan saya. Saya ditawari oleh Pak Said (almarhum-Tokoh Golkar Jatim) untuk menjadi anggota DPR Golkar, juga PPP saya tidak mau. Saya untuk dijadikan menteri Gus Dur itu diberi tahu 3 hari sebelum dilantik. Saya ditelpon malam-malam jam 23.00. Kata Gus Dur, Pak Tolchah hari ini sampeyan keJakartaya!Adaapa Gus? Sampeyan tak minta jadi menteri Agama di kabinet saya. Sampeyan datang keJakartamembawa baju sendiri dikarenakan saya tidak siapkan baju untuk sampeyan. Karena Gus Dur saya berangkat. Unisma saya serahkan kepada pengganti saya.




 


KH Muchith Muzadi


Teman Seangkatan KH Hasyim Latief di Pondok Tebuireng Jombang


Beliau teman saya sejak di Pesantren Tebuireng tahun 1938-1939. Seingat saya sampai hari ini teman saya di Tebuireng yang masih hidup tinggal satu  yaitu Brigjend Sulam Samsun di Jakarta yang juga teman dekat KH Hasyim Latief.


KH Munasir Ali yang sudah wafat beberapa tahun yang lalu. Satu lagi yang masih hidup Yusuf Hasyim yang empat tahun lebih muda dari saya. Saya mengetahui meninggalnya Pak Hasyim Latief dari berita. Kemudian saya beritahukan kepada seorang peneliti dari Prancis DR Andree Feillard. Dia beragama Katolik. Dia membalas dan mengatakan kenal Bapak Hasyim Latief orang baik. Saya bertanya dari mana dia tahu bahwa KH Hasyim Latief orang baik. Jawabnya di luar dugaan saya. Ia menjawab berdasarkan insting, bukan berdasar dari hasil kampaye.


Saya mengenal banyak tokoh. Saya mengenal banyak pemimpin, banyak guru tetapi ada beberapa hal yang khusus. Hanya ada beberapa yang seperti Pak Hasyim Latief dalam hal tingkah laku. Ia mempunyai ketelatenan, kerja keras dan jujur. Orang seperti ini sulit dicari di pasaranIndonesiasaat ini.


Saya bertemu lagi KH Hasyim Latief ketika saya pulang kampung di Tuban. Beliau menjadi kepala Staf Balation TNI Condromowo yang komandan Batalionnya Pak KH Munasir, Kepala Komanda Batalionnya antara lain KH Yusuf Hasyim, Muhamad Baidlowi, Syakir dan satu lagi namanya Pur. Yang masih hidup tinggal KH Yusuf Hasyim.


Saya waktu itu masuk tentara “ndeso”. Waktu itu ada tentara negara dan  ada tentara “ndeso” atau yang disebut laskar. Ikut perang tapi tidak pernah menembak. Kalau pun ditembak tidak pernah kena karena tidak pernah di barisan depan. Tapi bagaimana pun semuanya itu berfungsi, bermanfaat untuk kemerdekaan negara RepublikIndonesia.


Saya bertemu lagi beliau di kantor PBNU diJakarta. Saya kaget mengapa dan bertanya, “Kenapa kang sampean di sini.” Beliau menjawab, “Diam jangan omong keras-keras. Saya di sini sembunyi. Satu batalion saat ini mencari saya.” Ketika itu sekitar tahun 1956. Kemudian beliau di NU yang diurusi bukan masalah politiknya. Beliau memegang PERTANU. Masalah petani Nahdlatul Ulama yang tidak banyak “diopeni” orang.


Kedua beliau menggarap Ma’arif. Yang ini semua orang mengakui tidak bisa mengingkari jasa beliau dalam bidang pendidikan. Saya kira di daerah manapun diIndonesiaini tidak adakotasekecil Sepanjang ini yang mempunyai Lembaga Pendidikan sebesar YPM. Bahkan kata orang, andai kata YPM itu diurusi cabang NU belum tentu bisa sebesar saat ini. Sebab NU itu ada  makhluk yang unik. Kalau diurusi “nemen-nemen” (serius) malah tidak terurus, jika dibiarkan pasti buyar.


Jadi, sedang-sedang sajalah mengurusi NU. Kalau “kekerengen” (keras) buyar. Jika “kekendoen” (longgar) juga malah dimarahi banyak orang. Jadi pengurus tidak pernah mengurusi tapi malah jadi urusan. Itu di NU, saya jadi NU itu baru 64 tahun sejak tahun 1941.


Saya teringat ketika pertama kali Pak Hasyim Latief terserang stroke ketika di rumah beliau ada rapat para kiai yang tidak terpakai di struktural NU. Pak Munasir, KH Yusuf Hasyim dan saya juga datang. Tiba-tiba Pak Hasyim terserang stroke langsung dibawa ke RSI.


Ketika banyak orang geger kembali NU tahun 1952, saya masih berumur 32 tahun. Semua orang NU yang ada di Masyumi kembali ke NU, termasuk saya. Teman-teman saya di partai lain masih banyak yang bergabung Masyumi. Saya ditanya sampean masih muda kok masuk NU. Jawab saya enak saja. Sekarang muda, lama-lama juga tua.Wong potonganmu kayak gini kok masuk NU. Sebab dulu orang NU jika berjalan kayak keong “ngledong”, menunduk. Ini berbeda dengan orang NU sekarang. Tidak ada bedanya orang NU dan bukan NU. Gambaran orang waktu itu NU ke mana-mana sarungan.


Waktu saya menghadiri suatu resepsi di ITS, banyak orang hadir, tetapi yang sarungan cuma saya sendiri. Saya pikir-pikir jika dulu orang memakai celana dianggap haram apakah kalau saya sekarang sarungan juga dianggap haram.Saya dan Pak Hasyim Latief  waktu latihan kaibodan zaman Jepang berangkat dari kamar tidak berani memakai celana. Meski pakai celana tetap sarungan. Baru di lapangan sarungnya dilepas, terus latihan. Pak Hasyim Latief dulu punya rahasia. Baru sekarang ini saya omongkan. Saya bersama Pak Hasyim Latief  dan beberapa orang termasuk Pak Ud dulu bikin atau persisnya dibikinkan kelompok kepanduan oleh Kiai Abdul Karim Hasyim (Gus Karim), adik Gus Wachid yang juga adik persis Gus Sholah. Tapi itu bukan kepanduan NU melainkan kepanduan madrasah. Saya ketuanya dan Pak Hasyim Latief  sebagai sekretaris.


Akhirnya “geger” (tawuran) melawan kepanduan NU yang waktu itu kepanduan Ansor. Insiden ini diketahui kiai. Karena itu, semua diminta berkumpul dan menyerahkan seragam pandu. Kata kiai, gak pandu-panduan, bakar semua. Saya bersama Pak Hasyim Latief diam saja. Kemudian saya langsung ikut NU saja.


Pak Hasyim Latief pulang ke Jawa Timur mulai membenai Ma’arif Jawa Timur. Saya ditarik masuk menjadi pengurus NU Jawa Timur. Saya yang dulu NU-NU-an jadi NU beneran. Dan sampai sekarang saya tidak ingin terikat organisasi apapun secara permanen kecuali NU. Dulu saya pernah masuk Masyumi, tetapi Masyumi menyuruh keluar saya keluar.




 KH Sahal Mahfudz


Rois Aam PBNU


 Saya mulai kenal Pak Hasyim Latief –karena terus terang dari segi usia saya lebih muda dari beliau—sekitar tahun 1984. Ketika itu saya sudah menjadi Rois Syuriah di Jateng, dan waktu yang bersamaan Pak Hasyim Latief menjadi Ketua Wilayah NU Jatim. Kami sering kontak karena hubungan antar wilayah, apalagi Jawa, sangat intens dan sering komunikasi.


Kemudian 1984, ketika Muktamar Situbondo, saya direkrut untuk menjadi Pengurus PBNU, dan Pak Hasyim Latief juga sama. Jadi kami bareng. Dari situlah saya sering kontak dengan beliau. Bahkan saya sering mampir keSurabaya, bermalam di rumah beliau kalau saya kemalaman diSurabaya.


Saya melihat Pak Hasyim Latief adalah sosok yang memiliki komitmen tinggi terhadap NU. Komitmennya terhadap NU sangat luar biasa sehingga seolah-olah yang lain tidak dihiraukan kalau sudah bicara NU. Sampai sakit pun tidak dirasakan. Kadang-kadang ia memaksakan ikut rapat NU meski sakit. Kalau punya pemikiran juga konsisten. Dia memang bukan tipe orang keras, tapi kalau punya pendapat dia konsisten. Ini pengalaman saya yang sering rapat dengan beliau di PBNU atau di mana saja.


Beliau mempunyai kepribadian yang hebat. Orangnya ikhlas, tidak neko-neko. Kalau pendapatnya tidak dipakai, ia tidak marah. “Saya sudah ngomong kalau kalau tidak dipakai ya sudahlah”. Ini yang biasa diungkapkan beliau.




Kesaksian KH. Dr. Ali Maschan Musa,
Ketua PWNU Jatim dan Anggota DPR RI:

Alm. KH. Munir Hasyim Latief adalah Seorang ulama’ besar seorang pemimpin, beliau adalah guru, makanya bisa dilihat YPM Ini besar, bisa dilihat NU Jatim yang sampai hari ini dilihat besar juga tidak bisa dilupakan berkat kepemimpinan beliau, beliau pemimpin genarasi pertama NU yang sampai Muktamar terakhir beliau masih bisa hadir, oleh karena itu NU Jatim merasa kehilangan dan mudah mudahan amal ibadah beliau di terima oleh Allah SWT. Amin


Ada satu hal yang kami rasakan sektar tahun 1975 betapa beliau ingin semua anak-anak ini tidak lupa kepada ulama’, kami salah satunya angkatan pada tahun 1976 yang pada waktu itu disediakan oleh bus beliau di ajak ke para kiyai-kiyai mulai dari KH. Ahmad Jupri Pasuruan, sampai ke Paiton, Gengong, KH. Asad Samsul Arifin sampai ke Jombang terakhir waktu itu masih rois Am, Almaqfurlah KH. Bisri Sansuri, jadi itu menggambarkan betapa beliau orang punya komitmen yang kuat terhadap regenerasi.


            Kami sendiri di Wilayah NU Jawa Timur bis      a meniru beliau itu hanya satu tahun, Jaman ketua NU Wilayah Pak KH. Hasyim Latief itu tiap-tiap tahun namanya lembaga dan badan otonom itu ada platfomnya, ada bagiannya sendiri-sendiri, periode ini sudah kita coba hanya mampu satu tahun saja setelah itu sudah tidak biasa, itu menggambarkan betapa beliu adalah seorang manajer yang handal. Kebesaran YPM itu juga merupakan suatu bukti kesungguhan beliau didalam melaksanakan segala sesuatu, sehingga yang jadi pertanyaan apakah kita bisa mampu mirip meniru beliau itu yang sangat keras, makanya bagi NU kita-kita tidak merasa lebih hebat dari beliau-beliau. Sepeti halnya dalam kitab Al Fiyah yang melarang kita untuk merasa lebih baik dari pada pendahulu kita. Karena NU Wilayah Jawa Timur yang seperti saat ini tidak  bisa lepas dari saham terbesarnya beliau KH. Hasyim Latief.


            Beliau sampai akhir hayatnya (pagi itu sebelum meninggal) masih memeriksa bus yang mau dipakai anak-anak untuk stady tour, itu berarti betapa beliau itu mempunyai komitmen kepedulian terhadap anak muda, komitmen terhadap kepentingan sosial.


           









Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :

Pengirim : Farah Meutia -  [Kliwon100@ymail.com]  Tanggal : 19/04/2014
Assalamu'alaikum saya sebagai cicit dari Imam Zahid ingin mengoreksi tulisan saudara pada kalimat "Tak terkecuali, Salman, salah seorang tokoh Komando Jihad yang pernah membajak pesawat Garuda di Bangkok. Mereka semua adalah keponakan KH Hasyim Latief BA" Salman yang saudara maksud adalah Salman Hafidz beliau merupakan cucu dari Imam Zahid sama seperti HM. Hasyim Latief. Jadi, Salman bukanlah keponakan HM. Hasyim Latief (statusnya adalah mindoan). Dan Salman Hafidz bukanlah pembajak pesawat Garuda di Woyla, Bangkok seperti yang saudara tulis. Pembajak sebenarnya adalah Imron (kakak ipar dari Salman Hafidz) yang katanya Sudono adalah pimpinan komando jihad. Hanya saja Salman yang aktif dalam mengisi pengajian di masjid ITB (sekarang bernama masjid Salman). Mereka terlibat peristiwa Cicedo yang berawal dari sepeda motor bebeknya disita polsek Cicedo. Selanjutnya wallahu'alam. Mohon dikoreksi kesalahan tersebut. Terima kasih, Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Pengirim : ittlezpw -  [a2f6g758637f35@hotmail.com]  Tanggal : 07/09/2013
o4e3vb1f

j0ughemx

insurance

b6vuybfm

wiclaspe

Pengirim : ittlezpw -  [a2f6g758637f35@hotmail.com]  Tanggal : 09/08/2013
n96e6dpn

bs36kojt

insurance

lx2b4p2r

p92za8t2

Pengirim : ittlezpw -  [a2f6g758637f35@hotmail.com]  Tanggal : 08/08/2013
aa97bnye

rsla2nw2

insurance

rdow16w1

k1pg1i53


   Kembali ke Atas